Rabu, 29 Mei 2013

Resensi Buku


Judul buku                  : Rekonstruksi Sejarah Umat Islam di Tanah Papua
Penulis                         : Dr. Toni Victor M.Wanggai
Jumlah Halaman          : xx+259
Cetakan                       : cet. Pertama desember 2009
Penerbit                       : Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI
ISBN                           : 978-979-797-263-9

Teori tentang sejarah masuknya Islam di Papua, selama ini belum menjadi suatu penilaian khusus. Hal ini mungkin terjadi karena terbatasnya sumber-sumber lokal maupun asing yang membicarakan Papua. Sebagaimana pernah dikritik oleh seorang sarjana belanda sendiri bahwa pada abad XVI, orang-orang barat telah mengetahui bahwa di bagia barat dari Irian Barat (Papua) penduduknya telah memeluk Islam. Namun dalam laporan-laporan pemerintah Belanda tentang orang-orang muslim di daerah itu tidak pernah disinggung-singgung, agama Islam diabaikan sama sekali oleh Pemerintah belanda. Selain itu factor letak geografis yang berada di ujung timur Indonesia dan kondisi alam Papuan yang sulit ditembus dan dijjangkau karena dipenuhi hutan belantara, pegunungan dan dipisahkan oleh lautan luas..
Islam di Tanah Papua dalam historiografi islam di Indonesia, belum banyak terungkap dikalangan sejarawan. Mungkin karena pulau Papua dianggap sebagai daerah pinggiran Islam di nusantara dan belum tersentuh pengaruh Islam. Kesan yang timbul selama ini, penduduk asli Papua identik dengan pemeluk agama Kristen dan katholik. Pada realitasnya, proses awal Islamisasi di Papua telah terjadi sekitar abad XV-XVI, melalui kontak perdagangan, budaya dan politik dengan kerajaan-kerajaan Islam di Maluku Utara (ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo).
Lambatnya perkembangan umat Islam di Papua mempunyai beberapa alas an yang harus dijawab, antara lain dakwah yang yang tidak terorganisir, kurangnya para muballigh, lembaga pendidikan Islam, kurang pendanaan, sarana dan prasarana dakwah yang tidak mendukung, sulitnya kondisi geografis dan juga adanya masalah poloitis. Sedangkan agama Kristen dapat berkembang dengan cepat karena para misionaris dan zending, diorganisir dengan baik dan didukung fasilitas yang lengkap, seperti kesejahteraan, kantor, pesawat terbang dan sebagainya. Para misionaris dan zending yang diutus tidak hanya ahli dalam bidang teologi, tetapi didukung dengan perangkat ilmu-ilmu soial , maka mereka lebih dulu mempelajari adat istiadat, kehidupan rohani penduduk setempat. Juga tidak lepas dukungan oleh pemerintah belanda ketika itu.
Posisi umat Islam di papua ketika dibawah kolonial Belanda, sangat terjepit oleh persaingan misi katholik dan zending Kristen yang memperbanyak pengikutnya dan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan hamper disetiap pelosok papua. Dalam kondisi demikian, maka sejumlah gerakan dan perjuangan umat Islam yang terorganisir muncul dan lahir, pada tahun 1920 di Merauke berdiri gerakan kepanduan Hizbul Wathan dari Muhammadiyah. Kemudian  di fakfak (semenanjung onin), lahir gerakan Rakyat Irian Barat (GRIB) tahun 1960 yang bernama Openbaar vervolg School islam. Walaupun pimpinan sekolah tersebut bukan seorang muslim.
Setelah papua bergabung secara resmi ke dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 1 mei 1963, perkembangan dan dinamika islam semakin semarak dengan masuknya imigran spontan terutama dari Sulawesi, Jawa, dan Maluku. Juga dengan adanya program transmigran (mayoritas orang jawa) yang ditempatkan di Jayapura, Sorong, Manokwari, nabire, dan Merauke. Seiring dengan kedatangan mereka lahirlah gerakan-gerakan social keagamaan seperti muhammadiyah, Nahdlotul Ulama’, Darul Da’wah wa al-irsyad dan lain-lain. Berdiri juga lembaga pendidikan islam, seperti Yapis (yayasan pendidikan Islam) hampir mempunyai cabang disetiap kabupaten.
Hal yang menarik mengenai kehidupan beragama di papua adalah adanya agama keluarga, maksudnya di dalam satu keluarga bisa terdapat tiga pemeluk agama (Islam, Kristen dan katholik). Sehingga sikap toleransi dan penghormatan terhadap agama lain sangat tinggi, dalam sejarah beragama di Papua belum pernah terjadi konflik yang berarti antar umat beragama, hubungan kekeluargaan dan adapt dapat menyatuka mereka. Kerukunan antar umat beragama di papua dikenal dengan istilah “satu tungku tiga batu”.
Pemaparan penulis yang luas baik dalam cakupan maupun limgkup kajian seolah membuka mata pembaca untuk mengenal Papua tidak hanya dari sebelah mata. Membuang anggapan bahwa masyarakat papua adalah orang-orang yang hanya bisa melakukan ritual belaka terhadap roh-roh leluhur mereka, tidak mengenal sedikitpun tentang Islam. Buku ini memberikan jawaban terhadap pandangan subjektif keberagamaan Islam di tanah Papua, sekaligus bukti bahwa islam mampu menembus di daerah yang sangat pelosok sekalipun.
Isi buku ini runtut, penjelasannya mendalam, walaupun ada beberapa pernyataan yang belum sepenuhnya dapat dibuktikan, dalam arti masih ada sumber-sumber penulisan yang simpang siur.

2 komentar:

  1. Mba sitta thata saya sudah coba cari buku ini nga ketemu, kira2 apakah saya bisa copy buku ini mba? mhn bantuannya mba. terima kasih

    BalasHapus