Kematian Akal Membunuh Moral
Manusia
merupakan makhluk yang dicipta dengan segala kelebihan dan kekhasan. kelebihan
yang tak dimiliki makhlun lain dan kekhasan yang tak bisa disama-samakan,
mungkin banyak manusia yang mengeluh atas suatu kekurangan. Namun secara hakiki
manusia adalah hasil karya Tuhan dengan design yang sempurna dan menakjubkan.
Tuhan
menganugerahkan manusia sebuah akal. Jika diibaratkan dengan komputer akal
adalah software. Perangkat lunak yang merajai sebuah komputer. Hardware kualitas
nomor satu di duniapun tak akan berarti tanpa software. Begitu juga manusia,
tanpa akal manusia tak ada apa-apanya sama sekali. Dengan akal manusia mampu
menyaring antara sesuatu yang baik atau buruk, sesuatu yang harus dijalankan atau
ditinggalkan, akal juga sebagai wadah untuk mendapatkan pengetahuan. Dalam hal
ini Imam Ghozaly, seorang sufi yang tidak diragukan lagi ilmunya memberikan
interpretasi tinggi terhadap akal karena akal manusia merupakan alat untuk
mendapatkan segala pengetahuan.
Dewasa
ini, mudah sekali di temukan manusia yang tingkah lakunya sama sekali tidak
mencerminkan makhluk berakal. Nampaknya arus modernitas yang sangat gencar
mampu menggulung esensi akal secara signifikan. Manusia tak lagi kenal malu.
Tanpa rasa malu manusia tak bedanya dengan hewan. Pakaian tak lagi dianggap
penting, mesum sana-sini adalah hal biasa, perkelahian dijadikan ukuran
kehebatan, korupsi dianggap suatu kewajaran, ini adalah contoh dari sekian
banyak perilaku manusia yang seolah tak berakal. Dengan akal manusia punya rasa
malu, dan rasa malu mampu membentengi diri dari hal negatif.
Dampak
ketidakpunyaan malu sudah jelas terlihat di sekeliling kita. Hilangnya moral,
merajanya kriminal, meningkatnya kesadisan, sudah menjadi pemandangan yang
tidak langka. Di sini manusia tidak lagi mengenal dosa, karena masing-masing
individu memiliki dalih sendiri untuk membenarkan perilakunya. Salah satu
penuntun yang tepat adalah keyakinan dan agama, namun saat ini agama tak lain
hanyalah symbol belaka. Tidak bisa di bayangkan jika manusia terperangkap
krisis malu yang tak berujung. Bukankah tanpa rasa malu manusia sama saja
dengan hewan? Keadaan seperti ini cepat atau lambat dapat dipastikan moral
bangsa ini, bahkan dunia ini akan hancur. Semuanya kembali pada diri kita, berfikir
tentang akal yang kita punyai dan menggunakannya dengan sebaik mungkin ataukah
akan ikut-ikutan menghewankan diri seolah tak berakal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar