Rabu, 29 Mei 2013

kematian akal membunuh moral


Kematian Akal Membunuh Moral

Manusia merupakan makhluk yang dicipta dengan segala kelebihan dan kekhasan. kelebihan yang tak dimiliki makhlun lain dan kekhasan yang tak bisa disama-samakan, mungkin banyak manusia yang mengeluh atas suatu kekurangan. Namun secara hakiki manusia adalah hasil karya Tuhan dengan design yang sempurna dan menakjubkan.
Tuhan menganugerahkan manusia sebuah akal. Jika diibaratkan dengan komputer akal adalah software. Perangkat lunak yang merajai sebuah komputer. Hardware kualitas nomor satu di duniapun tak akan berarti tanpa software. Begitu juga manusia, tanpa akal manusia tak ada apa-apanya sama sekali. Dengan akal manusia mampu menyaring antara sesuatu yang baik atau buruk, sesuatu yang harus dijalankan atau ditinggalkan, akal juga sebagai wadah untuk mendapatkan pengetahuan. Dalam hal ini Imam Ghozaly, seorang sufi yang tidak diragukan lagi ilmunya memberikan interpretasi tinggi terhadap akal karena akal manusia merupakan alat untuk mendapatkan segala pengetahuan.
Dewasa ini, mudah sekali di temukan manusia yang tingkah lakunya sama sekali tidak mencerminkan makhluk berakal. Nampaknya arus modernitas yang sangat gencar mampu menggulung esensi akal secara signifikan. Manusia tak lagi kenal malu. Tanpa rasa malu manusia tak bedanya dengan hewan. Pakaian tak lagi dianggap penting, mesum sana-sini adalah hal biasa, perkelahian dijadikan ukuran kehebatan, korupsi dianggap suatu kewajaran, ini adalah contoh dari sekian banyak perilaku manusia yang seolah tak berakal. Dengan akal manusia punya rasa malu, dan rasa malu mampu membentengi diri dari hal negatif.
Dampak ketidakpunyaan malu sudah jelas terlihat di sekeliling kita. Hilangnya moral, merajanya kriminal, meningkatnya kesadisan, sudah menjadi pemandangan yang tidak langka. Di sini manusia tidak lagi mengenal dosa, karena masing-masing individu memiliki dalih sendiri untuk membenarkan perilakunya. Salah satu penuntun yang tepat adalah keyakinan dan agama, namun saat ini agama tak lain hanyalah symbol belaka. Tidak bisa di bayangkan jika manusia terperangkap krisis malu yang tak berujung. Bukankah tanpa rasa malu manusia sama saja dengan hewan? Keadaan seperti ini cepat atau lambat dapat dipastikan moral bangsa ini, bahkan dunia ini akan hancur. Semuanya kembali pada diri kita, berfikir tentang akal yang kita punyai dan menggunakannya dengan sebaik mungkin ataukah akan ikut-ikutan menghewankan diri seolah tak berakal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar