Judul buku :
Rekonstruksi Sejarah Umat Islam di Tanah Papua
Penulis :
Dr. Toni Victor M.Wanggai
Jumlah Halaman : xx+259
Cetakan :
cet. Pertama desember 2009
Penerbit :
Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama
RI
ISBN :
978-979-797-263-9
Teori tentang sejarah masuknya Islam di
Papua, selama ini belum menjadi suatu penilaian khusus. Hal ini mungkin terjadi
karena terbatasnya sumber-sumber lokal maupun asing yang membicarakan Papua.
Sebagaimana pernah dikritik oleh seorang sarjana belanda sendiri bahwa pada
abad XVI, orang-orang barat telah mengetahui bahwa di bagia barat dari Irian
Barat (Papua) penduduknya telah memeluk Islam. Namun dalam laporan-laporan
pemerintah Belanda tentang orang-orang muslim di daerah itu tidak pernah
disinggung-singgung, agama Islam diabaikan sama sekali oleh Pemerintah belanda.
Selain itu factor letak geografis yang berada di ujung timur Indonesia dan kondisi alam Papuan
yang sulit ditembus dan dijjangkau karena dipenuhi hutan belantara, pegunungan
dan dipisahkan oleh lautan luas..
Islam di Tanah Papua dalam historiografi
islam di Indonesia,
belum banyak terungkap dikalangan sejarawan. Mungkin karena pulau Papua
dianggap sebagai daerah pinggiran Islam di nusantara dan belum tersentuh
pengaruh Islam. Kesan yang timbul selama ini, penduduk asli Papua identik
dengan pemeluk agama Kristen dan katholik. Pada realitasnya, proses awal
Islamisasi di Papua telah terjadi sekitar abad XV-XVI, melalui kontak
perdagangan, budaya dan politik dengan kerajaan-kerajaan Islam di Maluku Utara
(ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo).
Lambatnya perkembangan umat Islam di Papua
mempunyai beberapa alas an yang harus dijawab, antara lain dakwah yang yang
tidak terorganisir, kurangnya para muballigh, lembaga pendidikan Islam, kurang
pendanaan, sarana dan prasarana dakwah yang tidak mendukung, sulitnya kondisi
geografis dan juga adanya masalah poloitis. Sedangkan agama Kristen dapat
berkembang dengan cepat karena para misionaris dan zending, diorganisir dengan
baik dan didukung fasilitas yang lengkap, seperti kesejahteraan, kantor,
pesawat terbang dan sebagainya. Para
misionaris dan zending yang diutus tidak hanya ahli dalam bidang teologi,
tetapi didukung dengan perangkat ilmu-ilmu soial , maka mereka lebih dulu
mempelajari adat istiadat, kehidupan rohani penduduk setempat. Juga tidak lepas
dukungan oleh pemerintah belanda ketika itu.
Posisi umat Islam di papua ketika dibawah
kolonial Belanda, sangat terjepit oleh persaingan misi katholik dan zending
Kristen yang memperbanyak pengikutnya dan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan
hamper disetiap pelosok papua. Dalam kondisi demikian, maka sejumlah gerakan
dan perjuangan umat Islam yang terorganisir muncul dan lahir, pada tahun 1920
di Merauke berdiri gerakan kepanduan Hizbul Wathan dari Muhammadiyah. Kemudian di fakfak (semenanjung onin), lahir gerakan
Rakyat Irian Barat (GRIB) tahun 1960 yang bernama Openbaar vervolg
School islam. Walaupun
pimpinan sekolah tersebut bukan seorang muslim.
Setelah papua bergabung secara resmi ke
dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
pada tanggal 1 mei 1963, perkembangan dan dinamika islam semakin semarak dengan
masuknya imigran spontan terutama dari Sulawesi,
Jawa, dan Maluku. Juga dengan adanya program transmigran (mayoritas orang jawa)
yang ditempatkan di Jayapura, Sorong, Manokwari, nabire, dan Merauke. Seiring
dengan kedatangan mereka lahirlah gerakan-gerakan social keagamaan seperti
muhammadiyah, Nahdlotul Ulama’, Darul Da’wah wa al-irsyad dan lain-lain.
Berdiri juga lembaga pendidikan islam, seperti Yapis (yayasan pendidikan Islam)
hampir mempunyai cabang disetiap kabupaten.
Hal yang menarik mengenai kehidupan
beragama di papua adalah adanya agama keluarga, maksudnya di dalam satu
keluarga bisa terdapat tiga pemeluk agama (Islam, Kristen dan katholik).
Sehingga sikap toleransi dan penghormatan terhadap agama lain sangat tinggi,
dalam sejarah beragama di Papua belum pernah terjadi konflik yang berarti antar
umat beragama, hubungan kekeluargaan dan adapt dapat menyatuka mereka.
Kerukunan antar umat beragama di papua dikenal dengan istilah “satu tungku tiga
batu”.
Pemaparan penulis yang luas baik dalam
cakupan maupun limgkup kajian seolah membuka mata pembaca untuk mengenal Papua
tidak hanya dari sebelah mata. Membuang anggapan bahwa masyarakat papua adalah
orang-orang yang hanya bisa melakukan ritual belaka terhadap roh-roh leluhur
mereka, tidak mengenal sedikitpun tentang Islam. Buku ini memberikan jawaban terhadap
pandangan subjektif keberagamaan Islam di tanah Papua, sekaligus bukti bahwa
islam mampu menembus di daerah yang sangat pelosok sekalipun.
Isi buku ini runtut, penjelasannya
mendalam, walaupun ada beberapa pernyataan yang belum sepenuhnya dapat
dibuktikan, dalam arti masih ada sumber-sumber penulisan yang simpang siur.
Mba sitta thata saya sudah coba cari buku ini nga ketemu, kira2 apakah saya bisa copy buku ini mba? mhn bantuannya mba. terima kasih
BalasHapuscara ngopiin bukunya gimana?
BalasHapus