Kamis, 30 Mei 2013

المنهج عند الغزالى



أَمَّا الْعُلُوْمُ غَيْرُ الشَّرْعِيَّةِ فَقَدْ قَسَّمَهَا الْغَزَالِيُّ إِلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ هِيَ الْعُلُوْمُ الْمَحْمُوْدَةُ، والْعُلُوْمُ الْمُبَاحَةُ، والْعُلُوْمُ الْمَذْمُوْمَةُ.
فَالْعُلُوْمُ الْمَحْمُوْدَةُ هِيَ الَّتِيْ لاَ يُسْتَغْنَى عَنْهَا فِيْ حَيَاةِ النَّاسِ ومَعِيْشَتِهِمْ، وتَعَامُلِهِمْ، وسَمَّاهَا الْغَزَالِيُّ بِفُرُوْضِ الْكِفَايَةِ، مِثْلُ الطِّبِّ والْحِسَابِ والصِّنَاعَاتِ.
Adapun ilmu-ilmu yang bukan Syari’at oleh Imam Ghazaly dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Ilmu-ilmu yang terpuji, Ilmu-ilmu yang diperbolehkan, Ilmu-ilmu yang tercela.
Ilmu-ilmu yang terpuji yaitu ilmu-ilmu yang sangat dibutuhkan dalam hidup dan kehidupan serta pergaulan ummat manusia. Menurut Imam Ghazaly diistilahkan dengan ilmu-ilmu fardhu kifayah, semisal Ilmu Kedokteran, Ilmu Berhitung dan Ilmu Perusahaan.
والْعُلُوْمُ الْمُبَاحَةُ هِيَ الْعُلُوْمُ الثَّقَافِيَّةُ مِثْلُ التَّارِيْخِ والْأَدَبِ والْأَشْعَارِ الَّتِيْ لاَ سُخْفَ فِيْهَا، كَالَّتِيْ تَحُثُّ عَلَى الْفَضِيْلَةِ والْخُلُقِ الْكَرِيْمِ.
Ilmu-ilmu yang diperbolehkan (mubahat), yaitu ilmu kebudayaan, seperti : sastra, sejarah, puisi-puisi yang tidak mengandung unsur kelemahan, lain halnya puisi-puisi yang dapat merangsang seseorang berbuat keutamaan dan akhlak mulia.
أَمَّا الْعُلُوْمُ الْمَذْمُوْمَةُ فَهِيَ الَّتِيْ تُضِرُّ صَاحِبَهَا أَوتُضِرُّ غَيْرَهُ إِذَا دَرَسَهَا ومَارَسَهَا، مِثْلُ عُلُوْمِ السِّحْرِ والطِّلْسَمَاتِ والشَّعْوَذَةِ. ومِثْلُ بَعْضِ فُرُوْعِ عِلْمِ الْفَلْسَفَةِ.
Adapun ilmu tercela yaitu ilmu pengetahuan yang merugikan pemiliknya ataupun orang lain jika mempelajari dan mengamalkannya. Seperti ilmu sihir, tulisan-tulisan azimat dan mantera-mantera serta sebagian cabang ilmu filsafat.
وقَدْ قَسَّمَ الْغَزَالِيُّ الْفَلْسَفَةَ إِلَى خَمْسَةِ فُرُوْعٍ هِيَ:
۱- الرِّيَاضِيَّاتُ: كَالْهَنْدَسَةِ والْحِسَابِ وعِلْمِ الْهَيْئَةِ
Imam Ghazaly membagi ilmu filsafat ini menjadi lima cabang, yaitu:
Ilmu pasti, seperti arsitektur, matematika dan ilmu ukur ruang.
2- اَلْعُلُوْمُ الْمَنْطِقِيَّةُ: وهِيَ عُلُوْمٌ لَا تَتَّصِلُ بِالدِّيْنِ أَيْضًا، ولَيْسَ فِيْهَا مِنَ الْمَعَارِفِ مَا يَجِبُ إِنْكَارُهُ، وتَبْحَثُ فِيْ الْأَدِلَّةِ وشُرُوْطِهَا، وفِيْ الْعِبَارَاتِ والْاِصْطِلَاحَاتِ. وهِيَ عُلُوْمٌ مُبَاحَةٌ أَيْضًا، وقَدْ تَتَرَتَّبُ عَنْهَا أَنْوَاعُ الضَّرَرِ الْمَذْكُوْرَةِ فِيْ الرِّيَاضِيَّاتِ.
Ilmu logika yaitu  ilmu yang tidak berhubungan dengan agama, membahas tentang dalil-dalil (indikasi-indikasi) serta syarat-syaratnya dan frase-frase kalimat serta ungkapannya. Karena itu ia termasuk juga ilmu-ilmu yang boleh dipelajari, meskipun menimbulkan juga beberapa bahaya sebagaimana yang terdapat dalam ilmu pasti.
3- الْإِلَهِيَّاتُ: وهِيَ عُلُوْمٌ تَبْحَثُ فِيْ ذَاتِ اللهِ سُبْحَانَهُ وتَعَالَى، وتَكْثُرُ فِيْهَا أَخْطَاءُ الْفَلَاسِفَةِ والْبَاحِثِيْنَ، إِذْ أَنَّ لِغَالِبِيَّتِهِمْ مَذَاهِبَ "بَعْضُهَا كُفْرٌ وبَعْضُهَا بِدْعَةٌ"
Ilmu ketuhanan (Ilahiyat) yaitu ilmu pengetahuan yang membahas tentang dzat Allah. Dalam hal ini banyak terjadi kesalahan para filosof dan para peneliti. Karena pada umumnya,  mereka memilki beberapa faham atau aliran yang sebagiannya ada yang kufur dan sebagian yang lain ada yang bid’ah.
4- اَلطَّبِيْعِيَّاتُ: يَبْحَثُ بَعْضُ هَذِهِ الْعُلُوْمِ فِيْ صِفَاتِ الْأَجْسَامِ وخَوَاصِّهَا، والتَّغْيِيْرَاتِ الَّتِيْ تَطْرُأُ عَلَيْهَا، ويَبْحَثُ الْبَعْضُ الْآخَرُ فِيْ الْعَلَاقَةِ بَيْنَ الْأَسْبَابِ والْمُسَبَّبَاتِ، لِذَلِكَ ظَهَرَتْ فِيْهَا بَعْضُ الْمَذَاهِبِ الطَّبِيْعِيَّةِ الَّتِيْ تُنْكِرُ الرُّوْحَ أَوِالْقَوْلَ بِفَنَائِهَا.
Ilmu alam (tabi’iyat). Sebagian ilmu pengetahuan ini membahas tentang sifat-sifat tubuh dan cirri-cirinya serta perubahan yang terjadi padanya. Sebagian lainnya membahas tentang hubungan antara beberapa sebab dan akibat (kausalitas). Karena itu muncullah dalam ilmu ini aliran ilmu alam yang mengingkari adanya ruh (jiwa) atau ajaran tentang rusaknya ruh.
5- اَلسِّيَاسِيَّاتُ والْخُلُقِيَّاتُ: وهِيَ الْعُلُوْمُ الَّتِيْ تَخْدُمُ الْمَصَالِحَ الدُّنْيَوِيَّةَ، والشُّئُوْنَ التَّهْذِيْبِيَّةَ والْخُلُقِيَّةَ. وَهَذِهِ الْعُلُوْمُ مُسْتَمَدَّةٌ مِنْ كُتُبِ اللهِ، وحُكْمِ الْأَنْبِيَاءِ والْأَوْلِيَاءِ والْمُتَصَوِّفِيْنَ. لَكِنَّ الْفَلَاسِفَةَ أَضَافُوْا إِلَيْهَا مِنْ آرَائِهِمْ، فَأَصْبَحَتْ لِذَلِكَ ذَاتَ ضَرَرَيْنِ، فَقَدْ يَرْفُضُهَا سَامِعُهَا لِظَنِّهِ أّنَّهَا مِنْ قَوْلِ الْفَلَاسِفَةِ، فَيَكُوْنُ بِذَلِكَ قَدْ رَفَضَ كَلَامَ اللهِ. وقَدْ يَقْبَلُهَا ويَحْسُنُ اِعْتِقَادُهُ بِالْفَلَاسِفَةِ، ظَانًّا أَنَّ مَا فِيْهَا مِنْ حُكْمِ الْأَنْبِيَاءِ والْأَوْلِيَاءِ إِنَّمَا أَتَى بِهِ الْفَلَاسِفَة.
Ilmu tata usaha dan moral atau etika (siyasiyah dan khuluqiyah) yaitu ilmu pengetahuan yang diabadikan untuk kemaslahatan duniawi dan hal ihwal pendidikan jiwa dan moral. Ilmu pengetahuan ini diambil dari kitab-kitab Allah SWT, ketentuan-ketentuan para Nabi, wali dan ahli tasawuf. Akan tetapi para filosof menambah ilmu tersebut dengan beberapa pendapat mereka, sehingga ilmu pengetahuan tersebut mengandung dua bahaya, yakni :Pertama, kadang-kadang orang yang mendengarkan mencampakkannya, karena menganggapnya berasal dari ucapan para filosof. Dengan demikian ia berarti menyingkirkan kalam Allah. Kedua,kadang-kadang ia menerimanya dan meyakini sebaik-baiknya terhadap para filosof itu, karena beranggapan bahwa hikmah-hikmah para Nabi dan wali didalam ilmu itu, tetapi sebenarnya berasal dari atau disampaikan oleh para filosof tadi.
وبِهَذَا نَرَى كَيْفَ يُقَسِّمُ الْغَزَالِيُّ الْعُلُوْمَ الْمُخْتَلِفَةَ، ويُعْطِيْ كُلَّ عِلْمٍ مِنْهَا قِيْمَتَهُ حَسْبَ فَائِدَتِهِ أَوضَرَرِهِ، فَهُوَ يُؤْمِنُ بِأَنَّ الْعُلُوْمَ عَلَى اِخْتِلَافِهَا، سَوَاءٌ أَكَانَتْ عُلُوْمًا عَقْلِيَّةً أَمْ عُلُوْمًا عَمَلِيَّةً، كَالصِّنَاعَاتِ، مُتَفَاوِتَةٌ وتَتَفَاوَتُ فَضَائِلُهَا بِتَفَاوُتِهَا.
Sekarang kita mengetahui bagaimana imam Ghazaly membagi bermacam-macam ilmu pengetahuan dan memberikan penilaian setiap ilmu sesuai dengan kegunaan maupun kemadorotannya. Maka beliau yakin bahwa ilmu pengetahuan dengan aneka ragamnya baik pengetahuan rasional maupun ilmu pengetahuan keterampilan seperti perusahaan-perusahaan itu adalah berbeda-beda.”Perbedaan keutamaan ilmu pengetahuan disebabkan karene perbedaan ilmu pengetahuan itu sendiri”.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar