Kamis, 30 Mei 2013

TEKNIK ANALISIS DATA PENELITIAN KUANTITATIF


PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tindak lanjut kegiatan peneliti sesudah pengumpulan data sangat bervariasi bentuknya tergantung dari bagaimana data yang terkumpul akan diorganisasikan. Agar peneliti tidak terhenti langkahnya dengan kebingungan tidak tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya, sebaiknya pada waktu menyusun proposal penelitian langkah-langkah tersebut sudah tercermin di dalamnya.
Jika ternyata tidak ditindak lanjuti dengan suatu analisis, maka data tersebut tidak akan memiliki sedikitpun arti bagi sebuah penelitian kecuali sebuah pemborosan tenaga, waktu, dan bahkan mungkin biaya. Sehubungan dengan hal tersebut, uraian berikut akan mencoba menindak lanjuti data yang terkumpul supaya bisa memiliki fungsi sebagaimana yang diharapkan oleh peneliti dalam aktivitas penelitiannya. Fokus pembahasan makalah ini akan dijelaskan teknik analisis data kuantitatif 

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan analisis data?
2.      Apa saja teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif?














PEMBAHASAN
1.      Pengertian Analisis Data
Dalam penelitian kuantitatif analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah: mengelompokkan data berdasarkan variable dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variable dari seluruh responden, menyajikan data tiap variable yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Untuk penelitian yang tidak merumuskan hipotesis, langkah terakhir tidak dilakukan.
2.      Teknik Analisis Data Kuantitatif
            Teknik analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik. Terdapat dua macam statistik yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik inferensial meliputi statistik parametris dan non parametris.
a.       Statistik Deskriptif
            Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Statistik deskriptif digunakan bila peneliti hanya ingin mendeskripsikan data sampel dan tidak ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi dimana sampel diambil. Tetapi  bila peneliti ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi maka teknik analisis data yang digunakan adalah statistik inferensial.
            Fungsi statistik deskriptif antara lain mengklasifikasikan suatu data variabel berdasarkan kelompoknya masing-masing dari semula belum teratur dan mudah diinterpretasikan maksudnya oleh orang yang membutuhkan informasi tentang keadaan variabel tersebut. Selain itu statistik deskriptif juga berfungsi menyajikan informasi sedemikian rupa, sehingga data yang dihasilkan dari penelitian dapat dimanfaatkan oleh orang lain yang membutuhkan.
            Termasuk dalam statistik deskriptif antara lain adalah penyajian data melalui table, grafik, diagram ligkaran, perhitungan modus, median, mean, perhitungan desil, persentil, perhitungan penyebaran data melalui perhitungan rata-rata dan standar deviasi, perhitungan persentase. [1]
Tabel 1
Skor Ujian Statistik Pendidikan Mahasiswa Semester V
Nama Mahasiswa
Nilai U T S
Nilai U A S
Statistik Pendidikan
Sitta
65
70
67,5
Nawwal
70
73
71,5
Ulum
75
80
77,7
Mahfud
73
71
72
Alex
60
75
67,5
Bambang
65
72
68,5
Hidayah
74
80
77
Munifah
68
74
71
Fitri
67
78
72,5
Nilna
65
78
71,5
Hanik
80
82
81
Najib
78
81
79,5
Yulida
76
78
77
Yusuf
72
80
76
N = 14



Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana kualifikasi kemampuan mahasiswa tersebut dalam mata kuliah Statistik pendidikan, baik ditinjau dari nilai Ujian Tengah Semester  maupun Ujian Semester, skor-skor tersebut dikonversi menjadi nilai. Pengkonversian skor menjadi nilai dapat dipergunakan pendekatan Penilaian Acuan Norma (PAN) atau Penilaian Acuan Patokan (PAP). Jika pendekatan pertama (PAN) yang dipergunakan, maka norma yang dijadikan standar adalah nilai Rata-rata (Mean) dan Standar Deviasi (SD) masing-masing nilai variabel. Namun, jika yang dipergunakan pendekatan kedua (PAP), maka standarnya adalah standar nilai yang dimiliki oleh lembaga yang bersangkutan. Misalnya STAIN Kudus memiliki standar nilai prestasi hasil belajar mahasiswa sebagai berikut:
Tabel 2
Standar Konversi dan Kualifikasinya
NO
SKOR
NILAI
KODE
KUALIFIKASI
1
2
3
4
5
80 – 100
70 – 79
60 – 69
50 – 59
0 – 49
4
3
2
1
0
A
B
C
D
E
Baik Sekali
Baik
Cukup
Kurang
Sangat Kurang
Dengan berpedoman pada standar di atas, maka skor hasil pengukuran kemampuan Statistik Pendidikan yang terdapat pada tabel 1 dapat dilakukan konversi. Melalui cara ini dapat diketahui distribusi nilai berikut kualifikasinya. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3
Kualifikasi Nilai Ujian Statistik Pendidikan Mahasiswa Semester V
Jurusan Tarbiyah STAIN Kudus Th. 2012/2013
Nama Mahasiswa
Nilai UTS
Nilai Ujian Semester
Statistik Pendidikan

Skor
Kw
Skor
Kw
Skor
Kw.
Sitta
65
C
70
B
67,5
C
Nawwal
70
B
73
B
71,5
B
Ulum
75
B
80
A
77,5
B
Mahfud
73
B
71
B
72
B
Alex
60
C
75
B
67,5
C
Bambang
65
C
72
B
68,5
C
Hidayah
74
B
80
A
77
B
Munifah
68
C
74
B
71
B
Fitri
67
C
78
B
72,5
B
Nilna
65
C
78
B
71,5
B
Hanik
80
A
82
A
81
A
Najib
78
B
81
A
79,5
B
Yulida
76
B
78
B
77
B
Yusuf
72
B
80
A
76
B
N = 14




1030








Langkah selanjutnya agar hasil konversi nilai memiliki makna lebih jelas, maka dilakukan kualifikasi berdasarkan jenis-jenis variabel beserta kualifikasinya. Tabel-tabel  berikut merupakan hasil dari prosedur pengerjaan ini. Dari tabel-tabel tersebut peneliti mulai bisa bicara sesuai dengan keadaan yang termuat di dalamnya. Misalnya pada tabel 4 peneliti mulai mendeskripsikan bahwa nilai Statistik Pendidikan mahasiswa Jurusan Tarbiyah STAIN Kudus Semeter IV, tidak tampak (0%) yang berkategori/berkualifikasi Kurang  (D) dan Sangat Kurang (E) tidak tampak (0%). Kualifikasi nilai mereka berkisar antara nilai Baik Sekali 7%, Baik  sebesar 71,43%, dan selebihnya berkualifikasi Cukup 21,43%. Secara umum dapat dikatakan bahwa nilai Statistik Pendidikan  yang diperoleh mahasiswa Jurusan Tarbiyah termasuk Baik. Hal ini dapat dilihat pula dari nilai rata-ratanya, yaitu sebesar 73.57.
Tabel 4
Nilai Statistik Pendidikan Mahasiswa Jurusan Tarbiyah
Nilai
Ujian Teng. Sem.
Ujian Semester
Statistik Pend.
F
%
F
%
F
%
A
B
C
D
E
1
7
6
0
0
7
50
42,86
0
0
5
9
0
0
0
35,71
64,29
0
0
0
1
10
3
0
0
7
71,43
21,43
0
0

b.      Statistik Inferensial
Statistik inferensial (sering juga disebut statistik induktif atau statistik probabilitas) adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganilisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Statistik ini akan cocok digunakaan bila sampel diambil dari populasi yang jelas dan teknik pengambilan sampel dari populasi itu dilakukan secara random (acak).
            Disebut sebagai statistik probabilitas karena kesimpulan yang diberlakukan untuk populasi berdasarkan data sampel itu kebenarannya bersifat peluang (probability). Suatu kesimpulan dari data sampel yang akan diberlakukan untuk populasi itu mempunyai peluang kesalahan dan kebenaran yang dinyatakan dalam bentuk persentase. Bila peluang kesalahan 5% maka taraf  kebenaran 95%, bila peluang kesalahan 1% maka taraf kebenarannya 99%. Peluang kesalahan dan kebenaran ini disebut dengan taraf signifikansi. Pegujian taraf signifikansi dari hasil suatu analisis akan lebih praktis bila didasarkan pada table sesuai teknik analisis yang digunakan. Misalnya uji-t akan digunakan table-t. pada setiap table sudah disediakan untuk taraf signifikansi berapa persen suatu hasil analisis dapat digeneralisasikan. Misalnya dari hasil analisis korelasi ditemukan koefisien korelasi 0,54 dan untuk signifikansi 5%  hal itu berarti hubungan variable sebesar 0,54 itu dapat berlaku pada 95 dari 100 sampel yang diambil dari suatu populasi.[2]
            Statistik inferensial adalah statistik lanjutan dari statistik deskriptif. Setelah peneliti menempuh serangkaian kegiatan penghitungan statistik yang menggunakan teknik-teknik deskripsional, penghitungan statistik selanjutnya adalah membuat penarikan kesimpulan yang sifatnya umum (konklusi), menyusun suatu ramalan (prediksi), atau melakukan penaksiran (estimasi).
            Konklusi, prediksi, dan estimasi adalah bentuk-bentuk interpretasi terhadap angka atau indeks tentang keadaan atau gejala yang diperoleh melalui teknik statistik inferensial yang tepat. Untuk menginterpretasikan angka atau indeks hingga menghasilkan suatu konklusi, prediksi, atau estimasi dapat dilakukan dengan cara sederhana atau menggunakan salah satu table yang sesuai dengan berdasarkan teknik statistik inferensial yang diinginkan. Kegiatan menginterpretasi data dalam statistik inferensial dilakukan dengan cara mendeskripsikan data dalam bentuk gambar, diagram, kurva, atau ukuran gejala pusat dengan gejala letak. Adapun statistik deskriptif, peneliti berkesempatan membuat suatu kesimpulan, ramalan, maupun penaksiran tentang data yang terdeskripsikan tadi sehingga berlaku umum bagi data sejenis yang diteliti.[3]

Statistik Parametris dan Nonparametris
Pada statistik inferensial terdapat statistik parametris dan nonparametris. Statistik parametris digunakan untuk menguji parameter populasi melalui statistik, atau meguji ukuran populasi melalui data sampel. Sedangkan statistik nonparametris tidak menguji parameter populasi, tetapi menguji distribusi.
Penggunaan kedua statistik tersebut juga tergantung pada jenis data yang dianalisis. Statistik parametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data interval dan rasio, sedangkan statistik nonparametris kebanyakan digunakan untuk menganalisis data nominal, ordinal. Jadi untuk menguji hipotesis dalam penelitian kuantitatif yang menggunakan statistik ada dua hal utama yang harus diperhatikan yaitu macam data dan bentuk hipotesis yang diajukan.[4]
a.      Macam data
Dalam dunia statistik dikenal setidaknya terdapat empat jenis data hasil pengukuran, yaitu data Nominal, Ordinal, Interval dan Rasio. Masing-masing data hasil pengukuran  ini memiliki karaktristik tersendiri yang berbeda antara satu dengan lainnya.
1. Data Nominal
Data ini juga sering disebut data diskrit, kategorik, atau dikhotomi. Disebut diskrit karena data ini memiliki sifat terpisah antara satu sama lainnya, baik pemisahan itu terdiri dari dua bagian atau lebih; dan di dalam pemisahan itu tidak terdapat hubungan sama sekali. Masing-masing kategori memiliki sifat tersendiri yang tidak ada hubungannya dengan kategori lainnya. Sebagai misal data hasil penelitian dikategorikan kedalam kelompok “ya” dan “tidak” saja misalnya  laki-laki/wanita (laki-laki adalah ya laki-laki; dan wanita adalah “tidak laki-laki”), kawin /tidak kawin; janda/duda, dan lainnya.
Data nominal selain contoh di atas terdapat pula yang berupa angka-angka. Akan tetapi angka-angka tersebut bukan merupakan suatu atribut, oleh sebab itu pada angka tersebut tidak berlaku hitungan matematis. Contoh data ini misalnya nomor punggung pemain sepak bola, nomor rumah, nomor plat mobil dan lainnya. Nomor-nomor tersebut semata-semata hanya menunjukkan simbol, tanda, atau stribut saja.
2. Data Ordinal
Data ordinal adalah data yang menunjuk pada tingkatan atau penjenjangan pada sesuatu keadaan. Berbeda  dengan data nominal yang menunjukkan adanya perbedaan secara kategorik, data ordinal juga memiliki sifat adanya perbedaan di antara obyek yang dijenjangkan. Namun dalam perbedaan tersebut terdapat suatu kedudukan yang dinyatakan sebagai suatu urutan bahwa yang satu lebih besar atau lebih tinggi daripada yang lainnya. Kriteria urutan dari yang paling tinggi ke yang yang paling rendah dinyatakan dalam bentuk posisi relatif atau kedudukan suatu kelompok. Contoh dari data ini misalnya: prestasi belajar siswa diklasifikasikan menjadi kelompok “baik”, “cukup”, dan “kurang”, atau ukuran tinggi seseorang  dengan “tinggi”, “sedang”, dan “pendek”.
Dalam kaitannya dengan analisis data, terhadap data ordinal seringkali diberikan “skor’ sesuai dengan tingkatannya. Istilah “skor” diberi tanda petik karena skor tersebut bukan skor sebenarnya, tetapi sebagai “tanda” yang menunjukkan tingkatan.
Contoh:           “Baik”             ……..  diberi tanda 3
“Cukup”          ……..  diberi tanda 2
“Kurang”        ……..  diberi tanda 1
Contoh lain data ordinal misalnya hasil ujian mahasiswa peserta kuliah Statistik Pendidikan Budiman memperoleh skor 90, Rahmat 85, Musyafak 75, dan Mahsunah 65. Berdasarkan skor-skor tersebut dibuatlah suatu jenjang  (rangking), sehingga terjadilah urutan jenjang ke 1 (90), ke 2 (85), ke 3 (75), dan ke 4 (65).Data ordinal memiliki harga mutlak (dapat diperbandingkan) dan selisih perbedaan antara urut-urutan yang berdekatan bisa tidak sama.
Data ordinal mempunyai nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan data diskrit karena mempunyai tingkatan yang lebih banyak daripada data diskrit yang hanya mempunyai dua kategori yaitu “ya” dan “tidak”.
3. Data Interval
Data interval tergolong data kontinum yang mempunyai tingkatan yang lebih tinggi lagi dibandingkan dengan data ordinal karena mempunyai tingkatan yang lebih banyak lagi. Data interval menunjukkan adanya jarak antara data yang satu dengan yang lainnya.Contoh data interval misalnya hasil ujian, hasil pengukuran tinggi badan, dan lainnya. Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa data interval tidak dikenal adanya nilai 0 (nol) mutlak. Dalam hasil pengukuran (tes) misalnya mahasiswa mendapat nilai 0. Angka nol ini tidak dapat diartikan bahwa mahasiswa tersebut benar-benar tidak bisa apa-apa. Meskipun ia memperoleh nilai nol ia memiliki suatu pengetahuan atau kemampuan dalam matakuliah yang bersangkutan. Nilai nol yang diberikan oleh dosen sebetulnya hanya merupakan atribut belaka hanya saja pada saat ujian, pertanyaan yang diujikan tidak pas seperti yang dipersiapkannya. Atau jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan yang dikehendaki soal.
4. Data Rasio
Data rasio merupakan data yang tergolong ke dalam data kontinum juga tetapi yang mempunyai ciri atau sifat tertentu. Data ini memiliki sifat interval atau jarak yang sama seperti halnya dalam skala interval. Namun demikian, skala rasio masih memiliki ciri lain. Pertama harga rasio memiliki harga nol mutlak,  artinya titik nol benar-benar menunjukkan tidak adanya suatu ciri atau sifat. Misalnya titik nol pada skala sentimeter menunjukkan tidakadanya panjang atau tinggi sesuatu. Kedua angka skala rasio memiliki kualitas bilangan riel yang berlaku perhitungan matematis. Misalnya berat badan Rudi  70 kg, sedangkan Saifullah 35 kg. Keadaan ini dapat dirasiokan bahwa berat badan Rudi dua kali berat badan Saifullah. Atau berat badan Saifullah separuh dari berat badan Rudi. Berbeda dengan data interval misalnya Rudi  ujian dapat 70 sementara Saifullah memperoleh 30. Hal ini tidak dapat diartikan  bahwa kepandaian Rudi  dua kali lipat kepandaian Saifullah.
Data rasio dalam ilmu-ilmu sosial jarang dipergunakan, bahkan hampir tidak pernah dipergunakan. Lapangan penggunaan data berskala rasio ini lebih banyak berada dalam bidang ilmu-ilmu eksakta terutama fisika.[5]





PENUTUP
Dalam penelitian kuantitatif analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul.
Terdapat dua macam statistik yang digunakan untuk analisis data dalam penelitian, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Statistik inferensial meliputi statistik parametris dan non parametris.
            Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
Statistik inferensial (sering juga disebut statistik induktif atau statistik probabilitas) adalah teknik statistik yang digunakan untuk menganilisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi.
Demikian ulasan tentang Teknik Analisis Data Penelitian Kuantitatif. Semoga bermanfaat.


DAFTAR PUSTAKA
M.Subana, dkk. Statiistik Pendidikan, 2000, Pustaka Setia, Bandung.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, 2007, Alfabeta, Bandung.
http://mabadik.wordpress.com/2010/07/10/teknik-analisis-data-kuantitatif/


[1] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, 2007, Alfabeta, Bandung. Hal 207-209
[2] Ibid, 210-211
[3] M.Subana, dkk. Statiistik Pendidikan, 2000, Pustaka Setia, Bandung. Hal 111
[4] Opcit. Hal 210-211.
[5] http://mabadik.wordpress.com/2010/07/10/teknik-analisis-data-kuantitatif/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar