Kamis, 30 Mei 2013

FIIL MUAKKAD DAN GHOIRU MUAKKAD

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Shorof dan nahwu adalah ilmu yang tidak dapat terlepas dalam kajian bahasa arab. Keduanya perlu dipelajari untuk mengetahui kaidah-kaidah bahasa arab. Maka untuk mengkaji keduanya dibutuhkan seperangkat sarana untuk mendukung keberhasilan dalam berbahasa arab.
Shorof adalah ilmu yang berhubungan dengan bahasa arab, membahas tentang perubahan kata, asal-usul kata atau keadaannya. Pembahasan dalam shorof sangat kompleks. Misalnya kata kerja atau fi’il. Shorof akan memberikan paparan tentang fi’il, perubahannya, jenis-jenisnya, dan lain sebagainya. Dalam makalah ini akan di paparkan tentang fi’il muakkad dan fi’il ghoiru muakkad.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa definisi fi’il muakkad dan ghoiru muakkad?
2.      Apa definisi nun taukid?
3.      Bagaimana hukum-hukum kalimah yang bertemu dengan nun taukid?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Fi’il Muakkad dan Ghairu Muakkad
Fi’il dapat diklasifikasikan dari segi muakkad dan ghairu muakkad.
1. Fi’il Muakkad
Fi’il Muakkad adalah fi’il yang berkonjungsi dengan nun taukid/penekanan atau penegasan), Seperti:‏لَيُسْجَنَنّ وَلَيَكُوناً مّن الصّاغِرِينَ
2. Fi’il Ghairu Muakkad
Fi’il Ghairu Muakkad  adalah fi’il (verba) yang tidak berkonjungsi dengan nun taukid/penegasan, seperti : يُسْجَنُ dan يَكُوْنُ
B.     Pengertian nun taukid
Nun taukid adalah  nun yang berfungsi untuk meyakinkan, yang masuk pada fi’il yang berzaman mustaqbal (masa yang akan datang). Pembagian nun taukid:
a. Nun taukid khofifah, yaitu nun taukid yang disukun. Contoh: يَنْصُرَنْ
b. Nun taukid tsaqilah, yaitu nun bertasydid yang berharokat fathah, selain yang berada setelah alif tasniyah dan alif fashilah.
C.  Hukum-hukum bacaan kalimah yang bertemu dengan nun taukid
Fi’il muakkad berlaku untuk fi’il mudlori dan fi’il amar. Sedangkan fi’il ghoiru muakkad berlaku untuk fi’il madli.
a.       Fi’il mudlori’ mufrod ketika bertemu dengan nun taukid dimabnikan fathah. Contoh:
يَغْزُوَنَّ      : huruf wawu yang merupakan huruf terakhir dari fiil mudlori’ di baca fathah karena bertemu dengan nun taukid tsaqilah.
يَغْزُوَنْ      : huruf wawu yang merupakan huruf terakhir dari fiil mudhori’ di baca fathah karena bertemu dengan nun taukid khofifah.
b.       Jika sebelum nun taukid tsaqilah berupa alif tasniyah, wawu jama’ atau ya’ mu’annats mukhottobah, maka fi’il mudlori dihukumi mu’rob dengan adanya huruf nun yang dibuang. Alif tasniyah tidak boleh dibuang, namun dlomir wawu dan ya’ dibuang. Contoh:


يَنْصُرَانِ + نَّ >            يَنْصُرَانَّ > يَنْصُرَانِّ
تَنْصُرَانِ + نَّ >            تَنْصُرَانَّ > تَنْصُرَانِّ
يَنْصُرُونَ + نَّ >           يَنْصُرُوْنَّ > يَنْصُرُنَّ
تَنْصُرُونَ + نَّ >           تَنْصُرُوْنَّ > تَنْصُرُنَّ
تَنْصُرِينَ + نَّ >            تَنْصُرِيْنَّ > تَنْصُرِنَّ
c.Fi’il mudlori’, baik tsulatsi maupun ruba’i, mujarrod atau mazid yang ketemu dengan nun taukid tsaqilah dapat ditashrif menjadi 14 bentuk, yaitu:
1)      3 ghoib
2)      3 ghoibah
3)      3 mukhothob
4)      3 mukhothobah
5)      2 mutakalim
d.Jika fi’il mudlori’ bertemu nun taukid khofifah hanya bisa ditashrif menjadi 8 bentuk, yaitu:
1)      2 ghoib
2)      1 ghoibah
3)      2 mukhothob
4)      1 mukhothobah
5)      2 mutakalim
 e.Nun taukid khofifah atau tsaqilah yang masuk pada fi’il amar dan fi’il nahi hukumnya sama ketika masuk pada fi’il mudlori’, hanya saja pada fi’il amar mendatangkan lam amar dan pada fi’il nahi mendatangka laa (لا).
f.Pada fi’il amar dan fi’il nahi yang bertemu dengan nun taukid khofifah hanya bisa ditashrif menjadi 6 bentuk, yaitu:
1)     2 ghoib
2)     1 ghoibah
3)     2 mukhotob
4)     1 mukhotobah
g.Fi’il amar dan fi’il nahi yang bertemu nun taukid tsaqilah bisa ditashrif menjadi 12 bentuk, yaitu:
1)      3 hoib
2)      3 ghoibah
3)      3 mukhothob
4)      3 mukhothobah
h. Jika nun taukid tsaqilah berada setelah alif tasniah dan alif fashilah, maka nun taukid wajib dibaca kasroh. Contoh:
يَنْصُرَنَّ، يَنْصُرَانِّ، يَنْصُرْنَانِّ
i. Fiil ketika di sandarkan kepada nun inats dan di taukidi dengan nun taukid tsaqilah, maka ditambahi dengan alif yang memisah antara nun inats dan nun taukid karenaorang arab tidak menyukai berturut-turutnya tiga huruf yang sama seperti contoh :
النسوة يغزونانِّ , يا نسوة هل تغزونانِّ
Lafadh يغزونانِّ sebelum bertemu dengan nun taukid adalah يغزون mengikuti wazan يفعلْنَ dan lafadh تغزونانِّ  sebelum bertemu dengan nun taukid adalah تغزون mengikuti wazan تفعُلْنَ  .

D. kekhususan dalam Nun khofifah
Nun taukid tsaqilah dapat digunakan untuk mentaukidkan fi’il mudlori’ dan fi’il amar, sedangkan untuk nun taukid khofifah mempunyai beberapa kekhususan yaitu:
1.      Nun taukid khofifah tidak dapat jatuh setelah alif secara mutlak dengan alasan karena bila nun taukid khofifah jatuh setelah alif maka akan terjadi bertemunya dua huruf mati yang tidak sesuai dengan persyaratannya. Maka tidak boleh mengatakan : يصونانْ dan   تصونان
2.      nun taukid khofifah tidak bisa jatuh setelah alif tatsniyah dan alif fashilah karena menimbulkan berkumpulnya 2 huruf yang mati yag dilarang. Contoh: يَنْصُرْنَانْ، يَنْصُرَانِ نْ
3.   Apabila nun taukid khofifah berada setelah fathah maka didatangkan alif dan dibentuk fathah tain. Contoh : لَنَسْفَعَنْ menjadi لَنَسْفَعًا
 
BAB III
PENUTUP

Fi’il Muakkad adalah fi’il yang berkonjungsi dengan nun taukid/penekanan atau penegasan, Fi’il Ghairu Muakkad  adalah fi’il yang tidak berkonjungsi dengan nun taukid/penegasan.
Nun taukid adalah  nun yang berfungsi untuk meyakinkan, yang masuk pada fi’il yang berzaman mustaqbal. Nun taukid ada dua, tsaqilah dan khofifah. Nun taukid khofifah berlaku mempunyai kekhususan dalam penggunaannya.
Fi’il yang bisa di taukidkan adalah fi’il mudlori’ dan fi’il amar. Dalam fi’il muakkad dan fi’il ghoiru muakkad mempunyai banyak hukum dalam penyusunannya.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar