Kamis, 03 Oktober 2013

Gelang, Perempuan, dan Spiritualitas.



Gelang hampir selalu hadir dalam tubuh, meski jarang ditafsir. Gelang dipakai penuh pamrih dan niat tapi kerap luput dari perhatian, sebab hampir selalu melekat. Gelang menyimpan tafsir da;n tragedi. Gelang hadir sebagai ikhtiar estetisisasi tubuh dalam pertaruhan kultural, seksualitas, spiritualitas, sosial dan ekonomi.
Gelang memiliki pamrih estetis. Aksesoris yang mempermanis penampilan tangan ini memiliki berbagai jenis bahan dan design. Bentuknya semakin variatif dan lebih fleksibel digunakan dalam berbagai kesempatan. Gelang memberi nuansa indah, penampilan yang sempurna, dan unik. Jelas saja, gelang digandrungi oleh kaum perempuan di seluruh penjuru dunia.
Perempuan identik dengan perhiasan. Keberadaan gelang yang merata di semua kalangan memberi peluang para perempuan untuk memenuhi kecantikan personal agar lebih Fashionable. Perhiasan dan penampilan menawan menjadi kebutuhan absurd bagi perempuan, khususnya mereka yang benar-benar menyandang pengikut sejati fashion. Jika ditelaah lebih lanjut, gelang tidak hanya sekedar aksesoris yang dipakai ditangan dan selesai sudah. Gelang selain menyita materi, juga menyita waktu. Pertimbangan tentang kesesuaian gelang dan segala aspek yang menunjang penampilan seperti gelang dan warna kulit, gelang dan model baju, gelang dan karakter pemakai sangat menghabiskan bayak waktu sehingga urusan yang lebih penting menjadi tersisihkan. Rasanya gelang merupakan sesuatu yang membutuhkan perhatian khusus, ribet sekali.
Semakin beragamnya jenis bahan dan motif membawa gelang pada suatu pergeseran gaya hidup, dimana gelang bukan sekedar perhiasan, tetapi penjelas identitas diri. Gelang memberi dampak pada strata sosial yang tidak terelakkan. Perempuan miskin dan perempuan kaya, kedua-duanya dapat memakai gelang. Bedanya, perempuan kaya mempunyai prioritas glamour, dan elegan. Bahan gelang harus berkualitas, berlapis emas atau berlian berapa karat menjadi pertimbangan nomor satu dalam suatu rancangan. Dengan memilih jenis bahan bernilai tinggi seolah gelang mampu menyampaikan bahwa pemakainya adalah golongan kaya. Semakin tinggi derajatnya, semakin mewah pula gelang yag dipakai. Sedang perempuan miskin adalah mereka yang tidak cukup mumpuni kriteria tersebut.
Zaman dahulu, manusia sudah mengenal gelang. Gelang muncul sekitar 3500 tahun silam. Gelang bisa terbuat dari apa saja, seperti tali, pengikat rambut, akar-akar, atau apa saja yag mudah didapatkan. Gelang difungsikan sebagai alat pengenal suatu kelompok. Gelang menjadi benda penting yang mampu mengikat orang banyak pada sebuah persatuan.
Yunani dan mesir kuno menggunakan benda bernama gelang itu sebagai aksesoris pelengkap perhiasan kerajaan. Sama halnya di Afrika, gelang dimanfaatkan oleh seorang kepala suku sebagai simbol keagungan dan kekuasaan. gelang memiliki arti besar sebagai penjelas kasta suatu golongan.
Demikian spesial keberadaan gelang. Namun dari sekian banyak makna dan fungsinya, gelang dapat menjadi penyebab kriminalitas. Gaya hidup yang bermewah-mewahan dan penampilan yang terkesan berlebihan megundang para pelaku kriminal untuk melanggar hukum.  Pencopetan, perampokan, penjambretan semakin marak.
Gelang juga menyimpan kisah tragis, W.S Rendra dalam puisinya yang berjudul “perjalanan Bu Aminah” menceritakan tentang gelang yang dijadikan sebagai pemuas seksual semata.

Majikan besar memberimu hadiah
Sepasang giwang, kalung dan gelang
Katanya sebagai penghargaan
Untuk kepribadianmu yang jelas dan tegas.

Salah satu penggalan puisi tersebut menceritakan tentang seorang perempuan pekerja yang mendapat iming-iming perhiasan dari majikannya, harga yang terlalu murah untuk prinsip hidup dan harga diri yang tak ternilai.
Spiritualitas
Galang menemukan relasi spiritualitas jika dikaitkan dengan isu soal keberlimpahan materi bahkan menjadi salah satu tanda kiamat. Dalam tradisi Islam, muslim dilarang berlebihan dan suka pamer. Berlebihan dan suka pamer adalah perbuatan setan. Perbuatan orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Pamer dapat menimbulkan sifat iri dan dengki, dari hal itu akan muncul dorongan untuk saling bersaing dalam hal materi dengan cara yang tidak sehat. Kemungkinan besar perpecahan semakin terbuka lebar. Sedangkan dalam ajaran islam, sesama muslim adalah saudara.      
Dalam dalil lain disebutkan salah satu tanda datangnya kiamat adalah banyaknya lelaki yang menyerupai perempuan dan perempuan menyerupai laki-laki. Gelang yang telah menyimbolkan identitas perempuan menjadi perdebatan ketika kaum laki-laki juga banyak yang memakainya. Pada awal munculnya gelang, tidak ada perbedaan tentang siapa pemakainya. Laki-laki dan perempuan mempunyai hak sama untuk memakai gelang. Hanya saja dalam perkembangannya, design gelang menjadi bermacam-macam dan terkesan feminin. Sejak itu kaum laki-laki meninggalkan gelang dengan alasan tidak ingin terlihat feminin. Berangkat dari cerita tersebut, rata-rata pemakai gelang adalah kaum perempuan.
Di sisi lain gelang memberikan suatu kepercayaan tertentu tentang penyelamatan diri, perlindungan diri. Konon jika seseorang menggunakan gelang tertentu akan lebih beruntung dibanding mereka yang tidak memakai apapun ditangannya. Hal ini banyak sekali ditemukan di Indonesia, hingga tidak sedikit yang menggunakan gelang sebagai jimat atau benda sakral.
Membidik Negara lain tentang hal ini, penduduk Amerika Latin mempercayai bahwa gelang yang digunakan pada lengan bayi, akan melindungi bayi mereka dari setan dan roh jahat. Kemudian penduduk di Asia dan Eropa meyakini jika gelang bisa melindungi seseorang dari kesialan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar