Gelang hampir selalu hadir
dalam tubuh, meski jarang ditafsir. Gelang dipakai penuh pamrih dan niat tapi
kerap luput dari perhatian, sebab hampir selalu melekat. Gelang menyimpan
tafsir da;n tragedi. Gelang hadir sebagai ikhtiar estetisisasi tubuh dalam
pertaruhan kultural, seksualitas, spiritualitas, sosial dan ekonomi.
Gelang memiliki pamrih estetis.
Aksesoris yang mempermanis penampilan tangan ini memiliki berbagai jenis bahan
dan design. Bentuknya semakin variatif dan lebih fleksibel digunakan dalam
berbagai kesempatan. Gelang memberi nuansa indah, penampilan yang sempurna, dan
unik. Jelas saja, gelang digandrungi oleh kaum perempuan di seluruh penjuru
dunia.
Perempuan identik dengan
perhiasan. Keberadaan gelang yang merata di semua kalangan memberi peluang para
perempuan untuk memenuhi kecantikan personal agar lebih Fashionable. Perhiasan
dan penampilan menawan menjadi kebutuhan absurd bagi perempuan, khususnya
mereka yang benar-benar menyandang pengikut sejati fashion. Jika ditelaah lebih
lanjut, gelang tidak hanya sekedar aksesoris yang dipakai ditangan dan selesai
sudah. Gelang selain menyita materi, juga menyita waktu. Pertimbangan tentang
kesesuaian gelang dan segala aspek yang menunjang penampilan seperti gelang dan
warna kulit, gelang dan model baju, gelang dan karakter pemakai sangat menghabiskan
bayak waktu sehingga urusan yang lebih penting menjadi tersisihkan. Rasanya
gelang merupakan sesuatu yang membutuhkan perhatian khusus, ribet sekali.
Semakin beragamnya jenis bahan
dan motif membawa gelang pada suatu pergeseran gaya hidup, dimana gelang bukan
sekedar perhiasan, tetapi penjelas identitas diri. Gelang memberi dampak pada
strata sosial yang tidak terelakkan. Perempuan miskin dan perempuan kaya, kedua-duanya
dapat memakai gelang. Bedanya, perempuan kaya mempunyai prioritas glamour, dan
elegan. Bahan gelang harus berkualitas, berlapis emas atau berlian berapa karat
menjadi pertimbangan nomor satu dalam suatu rancangan. Dengan memilih jenis
bahan bernilai tinggi seolah gelang mampu menyampaikan bahwa pemakainya adalah
golongan kaya. Semakin tinggi derajatnya, semakin mewah pula gelang yag
dipakai. Sedang perempuan miskin adalah mereka yang tidak cukup mumpuni
kriteria tersebut.
Zaman dahulu, manusia sudah
mengenal gelang. Gelang muncul sekitar 3500 tahun silam. Gelang bisa terbuat
dari apa saja, seperti tali, pengikat rambut, akar-akar, atau apa saja yag
mudah didapatkan. Gelang difungsikan sebagai alat pengenal suatu kelompok. Gelang
menjadi benda penting yang mampu mengikat orang banyak pada sebuah persatuan.
Yunani dan mesir kuno
menggunakan benda bernama gelang itu sebagai aksesoris pelengkap perhiasan
kerajaan. Sama halnya di Afrika, gelang dimanfaatkan oleh seorang kepala suku
sebagai simbol keagungan dan kekuasaan. gelang memiliki arti besar sebagai
penjelas kasta suatu golongan.
Demikian spesial keberadaan
gelang. Namun dari sekian banyak makna dan fungsinya, gelang dapat menjadi
penyebab kriminalitas. Gaya hidup yang bermewah-mewahan dan penampilan yang
terkesan berlebihan megundang para pelaku kriminal untuk melanggar hukum. Pencopetan, perampokan, penjambretan semakin
marak.
Gelang
juga menyimpan kisah tragis, W.S Rendra dalam puisinya yang berjudul
“perjalanan Bu Aminah” menceritakan tentang gelang yang dijadikan sebagai
pemuas seksual semata.
Majikan besar
memberimu hadiah
Sepasang giwang,
kalung dan gelang
Katanya sebagai
penghargaan
Untuk
kepribadianmu yang jelas dan tegas.
Salah satu penggalan puisi
tersebut menceritakan tentang seorang perempuan pekerja yang mendapat
iming-iming perhiasan dari majikannya, harga yang terlalu murah untuk prinsip
hidup dan harga diri yang tak ternilai.
Spiritualitas
Galang menemukan relasi
spiritualitas jika dikaitkan dengan isu soal keberlimpahan materi bahkan
menjadi salah satu tanda kiamat. Dalam tradisi Islam, muslim dilarang
berlebihan dan suka pamer. Berlebihan dan suka pamer adalah perbuatan setan. Perbuatan
orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Pamer dapat menimbulkan sifat
iri dan dengki, dari hal itu akan muncul dorongan untuk saling bersaing dalam
hal materi dengan cara yang tidak sehat. Kemungkinan besar perpecahan semakin
terbuka lebar. Sedangkan dalam ajaran islam, sesama muslim adalah saudara.
Dalam dalil lain disebutkan
salah satu tanda datangnya kiamat adalah banyaknya lelaki yang menyerupai
perempuan dan perempuan menyerupai laki-laki. Gelang yang telah menyimbolkan identitas
perempuan menjadi perdebatan ketika kaum laki-laki juga banyak yang memakainya.
Pada awal munculnya gelang, tidak ada perbedaan tentang siapa pemakainya.
Laki-laki dan perempuan mempunyai hak sama untuk memakai gelang. Hanya saja
dalam perkembangannya, design gelang menjadi bermacam-macam dan terkesan
feminin. Sejak itu kaum laki-laki meninggalkan gelang dengan alasan tidak ingin
terlihat feminin. Berangkat dari cerita tersebut, rata-rata pemakai gelang
adalah kaum perempuan.
Di sisi lain gelang memberikan
suatu kepercayaan tertentu tentang penyelamatan diri, perlindungan diri. Konon
jika seseorang menggunakan gelang tertentu akan lebih beruntung dibanding
mereka yang tidak memakai apapun ditangannya. Hal ini banyak sekali ditemukan
di Indonesia, hingga tidak sedikit yang menggunakan gelang sebagai jimat atau
benda sakral.
Membidik Negara lain tentang
hal ini, penduduk Amerika Latin mempercayai bahwa gelang yang
digunakan pada lengan bayi, akan melindungi bayi mereka dari setan dan roh
jahat. Kemudian penduduk di Asia dan Eropa meyakini jika gelang bisa melindungi
seseorang dari kesialan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar