Sepertinya
aku mulai mencintai malam. Berkelelawar seperti yang diibaratkan orang-orang
dan suka sekali lelap meniduri siang. Tidak selalu, hanya sering. Kata matahari
seluruh bumi sedang sibuk dengan urusannya sendiri, saat itu dunia sungguh acuh
atau hanya sedang berpura-pura acuh, aku enggan memikirkannya. Yang jelas tidak
satupun mempedulikanku, dan aku benci itu. Bisingnya membuat aku semakin ingin
lari, segera. Apapun yang terjadi, siang selalu memasang wajah tak peduli,
kalaupun peduli aku yakin dia sedang bohong. Hipokrit. Memutuskan membangun
dunia sendiri dengan tidur selalu kujadikan pilihan terbaik dari yang terbaik.
Siapa tahu, dengan tidur aku mendapat mimpi menjadi permaisuri raja yang selalu
hidup bahagia. Hei bukankah itu lebih menyenangkan dari pada aku terus hidup
mendengarkan kabar buruk dari matahari atau mengomeli siang yang tak peduli?
Ya, meskipun aku paham itu mimpi belaka.
Malam
selalu istimewa. Bukan berarti aku selalu bahagia dengannya. Hanya saja
menurutku malam lebih berpelangi, tapi kalau kau Tanya dari mana ada pelangi?
Aku pun tak tahu. Aku hanya memintamu mendengarkan ceritaku, aku malas
berdebat. Kau tahu mengapa malam bagiku sangat indah? Karena disana tersimpan
hening. Semuanya tenang, dan hal itu membuatku merasa dipedulikan. Aku bisa
bercerita apa saja, juga mendengar apa saja, memikirkan apa saja. dua cicak
yang berkejaran selalu mau mendengar ceritaku, sesekali pamer kalau mereka
adalah pasangan yang romantis. Ah, tak apa. Semoga aku tidak iri pada cicak. Langit-langit
kamar tanpa background bintang-bintang pun selalu menungguku bercerita dan tak
pernah mengeluhkan bosan. Apalagi lampu antik yang kulupa umurnya itu, selalu
menjadi yang paling setia sedunia. Indah, tenang, damai, itulah malam. Dan
setiap malam otakku merasa lebih berisi. Aku juga heran, mengapa siang tadi
rasanya otakku begitu bebal. Entahlah.
Kala
itu seingatku malam sedang tidak dalam purnamanya, biasa saja. namun kata
sepasang cicak sok romantis itu wajahku terlampau bahagia. Ada gerangan apakah?
Aku mulai mengenalmu, dan kau ternyata salah satu dari golongan orang yang
menyebalkan. Tidak serta merta aku menjudge seperti itu, perlu kau tahu itu
hasil dari penelitianku satu minggu setelah aku mengenalmu. Tapi semenyebalkan
apapun, kau tampak menyenangkan dengan tingkah aneh sekalipun. Bagaimana bisa?
lucu sekali.
Lalu
malam mulai sedikit berbeda, lebih pendek dari sebelumnya. Cepat larut seperti
gula dalam secangkir teh panas dan pagi datang menikmati kepul harum yang menggoda.
Tentunya karena kau, ada kau. “bolehkah aku kencan sebentar dengan adindaku?”
pinta cicak yang sedikit memancing geli karena ke-sokromantisan-nya. Dengan
sangat ikhlas aku mengangguk. “aku tidur dulu ya?” langit-langit kamar juga
ikut-ikutan meninggalkanku. Dan lampu tua yang katanya paling setia itupun
sudah khusyu’ memejamkan mata. Hah! Benar-benar tak tau diri. Lagi-lagi aku tak
bisa marah. Mengapa? Karena masih ada kau. Sepertinya mereka merasakan kehadiranmu.
Barang
canggih yang ku dambakan hanya satu, handphone. sepertinya aku miris
menyebutnya canggih, butut sekali. Tidak masalah selama ceritaku dan ceritamu
tertampung sempurna di handphone butut zaman mutakhir itu. Seharusnya kalimat
butut tak perlu ku ucapkan berkali-kali ya? Iya-iya. Lupakan butut. Ada ritual
yang tercipta begitu saja, memberi cerita dan menerima cerita. Bukan ritual
seperti pitulasan yang dilakukan sebulan sekali, tapi ritual saban malam.
Bercerita, apapun. Tapi aku tak punya ide cukup keren untuk memberi nama ritual
itu. Yang penting kita sama-sama paham. Itu saja.
Berapa
karakter sudah cerita yang kau kirim? Sungguh pertanyaan orang yang kurang
kerjaan. Ku harap kau tak menghitungnya, menjawab dengan menyebut angka berarti
kaupun masuk dalam nominasi orang kurang kerjaan. Dan jawabanmu ternyata “tak
terhingga”. Kau memang paling bisa menyalahkan apa yang ku khawatirkan. Malam
selalu bersahabat, seperti kau. Hingga pada akhirnya dia mengizinkan kita untuk
benar-benar mengenal. Tetapi mengapa kau sering bercerita panjang lebar di
malam hari? Apa kau merasakan tenang yang teramat sangat sepertiku? Kurasa
begitu. Kau sang kelelawar hebat, aku yakin aku kalah telak.
“kita
harus bersyukur karena setiap malam kita dianugerahkan kantuk. Selamat malam,
semoga bisa tidur nyenyak,” kau masih ingat kalimat itu? Jika kau menjawab lupa
aku bersedia menimpuk mukamu dan mengacak-acak rambutmu dengan garpu. Itu
kalimat di penghujung cerita malam bukan? Tepatnya tengah malam. Aku ingat
sekali, jadi tak ada kesempatan buatmu untuk menyalahkanku.
Aku
juga masih ingat ceritamu tentang peristiwa bangun kesiangan dan tidak ikut
sholat id. Coba tanyakan orang sekampung pasti kau dibilang makhluk aneh. Hari
raya sendiri tak sadar. Yang lain berbondong-bondong ke masjid kau malah
terlelap bak di surga tanpa dosa. Begadang sampai jam berapa? Ternyata selama
pelatihan jadi ‘alarm’ handal kau belum mampu membangunkan dirimu sendiri?
Bukannya dulu kau selalu sukses membangunkanku? Kau memang aneh. Tapi tadi
sudah ku bilang, kau tampak menyenangkan dengan tingkah aneh sekalipun. Dan aku
percaya kau khilaf, tidak sengaja. Aku mengenalmu sebagai orang yang mengenal
Tuhan. Al, sekarang aku jadi sok tahu segalanya tentang kau. Apakah benar aku
setahu itu?
Mulai
kapan kita saling bercerita senyaman-nyamannya ternyata aku tak cukup cerdas
untuk mengingat tanggal, bulan, dan tahunnya. Ceritamu terlalu banyak, mana
sempat aku mengingat tanggal. Kau juga begitu kan? Ceritaku juga terbilang tak
sedikit. Tenang, tanggal itu tak begitu penting untuk dimasukkan buku sejarah
anak sekolah kok. Tak usah pikir pusing. Dari semua ceritamu ada satu yang
ingin aku tanyakan. “Bagaimana sih ekspresimu saat nangis?” aku terbahak
sekarang. Berani cerita harus berani memperagakan. Hanya kau lelaki yang
mengaku menangis saat menangis. Tidak
seperti yang lain, sok tegar, gengsi. dimataku kau benar-benar orang yang tak
mampu mengenal malu. Pejantan tangguh sekalipun punya perasaan bukan? Dan setiap
orang berhak menangis. Namun aku berani taruhan, nyalimu terlalu ciut untuk
menampilkan adegan dramatis itu dihadapanku. Maaf, aku menertawakanmu
berkali-kali. Andai kau tahu tawaku itu bohong. justru aku yang ingin menangis.
Aku takut kehilangan sesuatu.
Akhir-akhir
ini aku resah. Kau tahu? Tidak, kau tidak tahu-menahu hal ini. Tapi kau tahu,
aku selalu bercerita pada pendengar baik. Dan itu kau. Aku marah hebat dan sama
sekali tak ingin mendengar suaramu saat kau menceritakan seseorang yang ku
ketahui berjenis kelamin perempuan, dia bekas pacarmu. Aku mendengarnya seperti
ada angin ribut yang meroboh-robohkan gendang telinga. Selama ini ceritamu ku
nilai selalu bagus, tapi tidak untuk kali ini. Jelek, sangat jelek. Dan aku
urung melanjutkan pembicaraan. aku putuskan untuk mematikan handphone, parahnya
aku tak mampu mengucapkan pamit, dengan kalimat terpendek sekalipun. Kau pasti
kelimpungan, aku tahu.
Menurut
bisikan dukun tetangga aku sedang terbakar cemburu. Panas Al, membara. Tapi aku
terlalu pengecut untuk mengakuinya. kejadian aku menutup telfon dengan cara tak
wajar membuatmu sibuk meminta maaf. Tapi aku belum bisa menjelaskan sebuah
jawaban ketika nanti kau Tanya aku kenapa. Itu pertanyaan rumit Al, beri aku
waktu berfikir.
Saat
dimana aku sangat membutuhkan pendengar selain kau, terasa sekali aku linglung.
Tak ada arah yang ku toleh. Aku harus bagaimana? Kau terlanjur ku anggap bukan
orang lain, kau sudah tahu semuanya tentang aku. Apa aku perlu mencari
pendengar baik yang lain? Tidak, apapun masalahnya, kau harus tahu, aku harus
bercerita, meskipun ini tentang perasaan yang aku sendiri tidak terlalu paham.
Aku resah lagi, aku bingung bagaimana caranya bercerita yang baik dan benar.
Ini luar biasa, aku takut habis kata. Tentang perasaan yang abstrak, yang
paling membuatku sensitif dibanding apapun. “Aku sayang kau” , akhirnya kau
tahu semuanya. Dadaku lega tak terkira, hingga saat itupun kau tak berubah
julukan dari pendengar yang selalu baik. Bagiku ini bukan adegan memalukan,
bukankah dulu Khodijah yang berkata cinta lebih awal kepada Muhammad? karena
aku sadar kesempatanku bercerita tentang itu semakin sempit.
Sayang
atau cinta menurut kebanyakan orang berbeda makna. Tapi tidak menurutku, bagiku
sama, aku memilih diksi sayang karena alasan kenyamanan dimulutku. mereka saja
yang mempersulit dengan mencari-cari perbedaannya. Setelah kau tahu, sama
sekali aku tak menyuruhmu berkata-kata, menjawab tidak atau iya. Bukan, aku tak
mengiginkan hal itu. Cukup sekedar kau tahu, jangan beri jawaban. Aku hanya
ingin kita tetap bercerita.
Selega
apapun aku tetap gelisah dengan peristiwa gelas pecah, aku khawatir suatu saat
kita seperti gelas itu. Al, apa kau meresahkan hal itu juga? Ku ulangi lagi ini
perihal paling sensitif bagiku dibanding apapun. Tiba-tiba dadaku sering sesak,
perasaan itu semakin berani menantang, seperti akar yang memaksa muntah dari
tanah dengan kekuatan maksimalnya. Aku kesakitan Al. aku menjadi cengeng, kau
terasa jauh, dan makin jauh. “meskipun kau tidak menyukai siang, aku tetap
harus berbincang tentang matahari. Matahari selalu bisa menyinari walaupun
dengan jarak yang sangat jauh bukan? Jika terlalu dekat, maka yang terjadi
matahari hanya menyakiti bumi.” Jujur aku bingung dengan rangkaian kalimatmu,
apa maksudnya?
Galau,
begitulah anak muda menamakan. Di zaman serba modern ini wabah galau sangat
cepat menyerang dari satu tempat ke tempat lain. Sialnya aku kena. Kau tak ada
kabar, aku tak yakin kau setega itu. Apa kau pikir dengan menghilang aku akan
tenang? Tidak Al, sebaliknya. Aku galau, gundah gulana. Hal yang membuatku
gelisah siang malam benar-benar terjadi. Kau berubah, kau tidak lagi
menyalahkan kekhawatiranku seperti dulu. Kau juga tega membiarkan aku menangis
tersedu. Aku ingin bercerita Al, kau dimana?
Enam
bulan berlalu kau juga tak kembali. Aku berkali-kali menghubungimu tapi
responmu acuh seperti siang, padahal kau mengerti aku tidak suka siang yang
super acuh itu. Mengapa kau justru menirunya? Kau sengaja melakukannya? Air
mataku semakin deras Al.
Tertatih,
aku tak lagi punya cara. Aku minta maaf jika perasaan itu kau anggap sebuah
kesalahan. Setidaknya, kau tak perlu pergi sejauh matahari. Aku membutuhkanmu,
aku masih ingin mendengarmu, aku masih ingin kau dengar. Aku ingin kita tetap
bercerita. Tepat sebelas bulan lebih empat hari setelah kau pamit ke bandung untuk
melanjutkan studi kau benar-benar tak menanyakan kabarku lagi, sekalipun tak
pernah. Dan sepertinya itu terlalu mudah kau lakukan, tidak seperti aku. Andai
sebelum pergi kau memberiku cara bagaimana menghentikan air mata mungkin aku
tak selemah ini. Ku kira air mata kepergianmu saat itu sudah cukup mewakili
segalanya, ternyata tidak. Bertemu pun jarang sekali, kenapa aku tak mampu
menahan bendungan air mata agar tidak tumpah ketika melihatmu pergi? Aku juga
tak mengerti, mungkin saja perasaanku terlalu jujur.
Al,
begitu sulit ku temukan radarmu. Air mataku mulai kering, rinduku mengeluh
lelah, ceritaku tercecer berserakan. Jika memang kau tak akan kembali, do’aku
selalu mengiringimu, semoga kau baik-baik saja. semenyebalkan apapun kau, tak
pernah mengukir cela dihidupku. Terima kasih atas kesempatan malam-malam lalu
dan mengenalmu hingga aku menjadi sok tahu tentang segala hal. Andaipun Tuhan
memberiku kesempatan untuk bertemu denganmu sekali saja, aku memintamu untuk
mendoakan kesembuhanku. Aku ingat kau pernah berkata do’a akan mengalahkan
apapun bukan? Terhitung Sembilan hari aku terbaring di tempat mengerikan
bernama rumah sakit ini, kau tahu Al, aku tidak tahan baunya. Siang dan malam
terasa sama, tidak menyenangkan seperti dulu. Memang aku dulu belum sempat
bercerita tentang penyakit ganas ini, aku tak ingin kau cerewet menasihatiku
ini itu. Tetapi aku baru sadar aku ingin bercerita saat kau tak lagi bersedia
24 jam seperti yang sudah-sudah. Tak perlu ku jelaskan tentang penyakit apa,
mulutku berat sekali mengucapkannya. Toh kau juga tak disini. Jadi tak perlu
aku menghabiskan waktu untuk menyebut penyakit mengerikan itu. Al, sudah tak
mampu lagi aku menggambarkan bagaimana rasanya kesepian hingga saat ini. Setiap
hari aku berdoa kau datang menjengukku tanpa aku memberitahumu. Mustahil. Aku
merasakan sakit sekali Al, aku ingin segera pergi dari sini. Mungkin disana aku
akan lebih tenang. Sekali lagi maafkan aku, aku terlalu bodoh untuk mengerti
apa yang sebenarnya terjadi. Dengan ataupun tanpa kesempatan kita untuk
bertemu, berjanjilah untuk selalu mendo’akanku. Aku butuh doamu. Itu saja Al,
tidak lebih. Aku tahu aku bukan pendengar yang baik, segera temukan pendengar
terbaik ya, jangan seperti aku. Manja, cengeng, seperti anak kecil katamu. Al, sekarang dadaku sesak sekali, pandanganku
kabur, semuanya terasa sakit. Tetapi kenapa aku merasa kau ada di dekat sini?
Apa Tuhan mengabulkan do’aku untuk bertemu denganmu? Aku semakin merasakanmu
Al. bukankah orang yang sedang berjalan di depan pintu itu kau? Entahlah.
Semuanya menjadi gelap sebelum aku menemukan jawaban. Jika orang itu benar kau,
aku bisa menebak kau tak akan menangis, nyalimu terlalu ciut untuk menangis
didepanku kan? Aku saja yang menangis, tak perlu kau meniruku. Selamat tinggal
Al, Alan yang aneh dan selalu menyebalkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar