Kamis, 03 Oktober 2013

Al, Masihkah Engkau Mendengarku?



Sepertinya aku mulai mencintai malam. Berkelelawar seperti yang diibaratkan orang-orang dan suka sekali lelap meniduri siang. Tidak selalu, hanya sering. Kata matahari seluruh bumi sedang sibuk dengan urusannya sendiri, saat itu dunia sungguh acuh atau hanya sedang berpura-pura acuh, aku enggan memikirkannya. Yang jelas tidak satupun mempedulikanku, dan aku benci itu. Bisingnya membuat aku semakin ingin lari, segera. Apapun yang terjadi, siang selalu memasang wajah tak peduli, kalaupun peduli aku yakin dia sedang bohong. Hipokrit. Memutuskan membangun dunia sendiri dengan tidur selalu kujadikan pilihan terbaik dari yang terbaik. Siapa tahu, dengan tidur aku mendapat mimpi menjadi permaisuri raja yang selalu hidup bahagia. Hei bukankah itu lebih menyenangkan dari pada aku terus hidup mendengarkan kabar buruk dari matahari atau mengomeli siang yang tak peduli? Ya, meskipun aku paham itu mimpi belaka.
Malam selalu istimewa. Bukan berarti aku selalu bahagia dengannya. Hanya saja menurutku malam lebih berpelangi, tapi kalau kau Tanya dari mana ada pelangi? Aku pun tak tahu. Aku hanya memintamu mendengarkan ceritaku, aku malas berdebat. Kau tahu mengapa malam bagiku sangat indah? Karena disana tersimpan hening. Semuanya tenang, dan hal itu membuatku merasa dipedulikan. Aku bisa bercerita apa saja, juga mendengar apa saja, memikirkan apa saja. dua cicak yang berkejaran selalu mau mendengar ceritaku, sesekali pamer kalau mereka adalah pasangan yang romantis. Ah, tak apa. Semoga aku tidak iri pada cicak. Langit-langit kamar tanpa background bintang-bintang pun selalu menungguku bercerita dan tak pernah mengeluhkan bosan. Apalagi lampu antik yang kulupa umurnya itu, selalu menjadi yang paling setia sedunia. Indah, tenang, damai, itulah malam. Dan setiap malam otakku merasa lebih berisi. Aku juga heran, mengapa siang tadi rasanya otakku begitu bebal. Entahlah.
Kala itu seingatku malam sedang tidak dalam purnamanya, biasa saja. namun kata sepasang cicak sok romantis itu wajahku terlampau bahagia. Ada gerangan apakah? Aku mulai mengenalmu, dan kau ternyata salah satu dari golongan orang yang menyebalkan. Tidak serta merta aku menjudge seperti itu, perlu kau tahu itu hasil dari penelitianku satu minggu setelah aku mengenalmu. Tapi semenyebalkan apapun, kau tampak menyenangkan dengan tingkah aneh sekalipun. Bagaimana bisa? lucu sekali.
Lalu malam mulai sedikit berbeda, lebih pendek dari sebelumnya. Cepat larut seperti gula dalam secangkir teh panas dan pagi datang menikmati kepul harum yang menggoda. Tentunya karena kau, ada kau. “bolehkah aku kencan sebentar dengan adindaku?” pinta cicak yang sedikit memancing geli karena ke-sokromantisan-nya. Dengan sangat ikhlas aku mengangguk. “aku tidur dulu ya?” langit-langit kamar juga ikut-ikutan meninggalkanku. Dan lampu tua yang katanya paling setia itupun sudah khusyu’ memejamkan mata. Hah! Benar-benar tak tau diri. Lagi-lagi aku tak bisa marah. Mengapa? Karena masih ada kau. Sepertinya mereka merasakan kehadiranmu.
Barang canggih yang ku dambakan hanya satu, handphone. sepertinya aku miris menyebutnya canggih, butut sekali. Tidak masalah selama ceritaku dan ceritamu tertampung sempurna di handphone butut zaman mutakhir itu. Seharusnya kalimat butut tak perlu ku ucapkan berkali-kali ya? Iya-iya. Lupakan butut. Ada ritual yang tercipta begitu saja, memberi cerita dan menerima cerita. Bukan ritual seperti pitulasan yang dilakukan sebulan sekali, tapi ritual saban malam. Bercerita, apapun. Tapi aku tak punya ide cukup keren untuk memberi nama ritual itu. Yang penting kita sama-sama paham. Itu saja.
Berapa karakter sudah cerita yang kau kirim? Sungguh pertanyaan orang yang kurang kerjaan. Ku harap kau tak menghitungnya, menjawab dengan menyebut angka berarti kaupun masuk dalam nominasi orang kurang kerjaan. Dan jawabanmu ternyata “tak terhingga”. Kau memang paling bisa menyalahkan apa yang ku khawatirkan. Malam selalu bersahabat, seperti kau. Hingga pada akhirnya dia mengizinkan kita untuk benar-benar mengenal. Tetapi mengapa kau sering bercerita panjang lebar di malam hari? Apa kau merasakan tenang yang teramat sangat sepertiku? Kurasa begitu. Kau sang kelelawar hebat, aku yakin aku kalah telak.
“kita harus bersyukur karena setiap malam kita dianugerahkan kantuk. Selamat malam, semoga bisa tidur nyenyak,” kau masih ingat kalimat itu? Jika kau menjawab lupa aku bersedia menimpuk mukamu dan mengacak-acak rambutmu dengan garpu. Itu kalimat di penghujung cerita malam bukan? Tepatnya tengah malam. Aku ingat sekali, jadi tak ada kesempatan buatmu untuk menyalahkanku.  
Aku juga masih ingat ceritamu tentang peristiwa bangun kesiangan dan tidak ikut sholat id. Coba tanyakan orang sekampung pasti kau dibilang makhluk aneh. Hari raya sendiri tak sadar. Yang lain berbondong-bondong ke masjid kau malah terlelap bak di surga tanpa dosa. Begadang sampai jam berapa? Ternyata selama pelatihan jadi ‘alarm’ handal kau belum mampu membangunkan dirimu sendiri? Bukannya dulu kau selalu sukses membangunkanku? Kau memang aneh. Tapi tadi sudah ku bilang, kau tampak menyenangkan dengan tingkah aneh sekalipun. Dan aku percaya kau khilaf, tidak sengaja. Aku mengenalmu sebagai orang yang mengenal Tuhan. Al, sekarang aku jadi sok tahu segalanya tentang kau. Apakah benar aku setahu itu?   
Mulai kapan kita saling bercerita senyaman-nyamannya ternyata aku tak cukup cerdas untuk mengingat tanggal, bulan, dan tahunnya. Ceritamu terlalu banyak, mana sempat aku mengingat tanggal. Kau juga begitu kan? Ceritaku juga terbilang tak sedikit. Tenang, tanggal itu tak begitu penting untuk dimasukkan buku sejarah anak sekolah kok. Tak usah pikir pusing. Dari semua ceritamu ada satu yang ingin aku tanyakan. “Bagaimana sih ekspresimu saat nangis?” aku terbahak sekarang. Berani cerita harus berani memperagakan. Hanya kau lelaki yang mengaku menangis saat menangis.  Tidak seperti yang lain, sok tegar, gengsi. dimataku kau benar-benar orang yang tak mampu mengenal malu. Pejantan tangguh sekalipun punya perasaan bukan? Dan setiap orang berhak menangis. Namun aku berani taruhan, nyalimu terlalu ciut untuk menampilkan adegan dramatis itu dihadapanku. Maaf, aku menertawakanmu berkali-kali. Andai kau tahu tawaku itu bohong. justru aku yang ingin menangis. Aku takut kehilangan sesuatu.
Akhir-akhir ini aku resah. Kau tahu? Tidak, kau tidak tahu-menahu hal ini. Tapi kau tahu, aku selalu bercerita pada pendengar baik. Dan itu kau. Aku marah hebat dan sama sekali tak ingin mendengar suaramu saat kau menceritakan seseorang yang ku ketahui berjenis kelamin perempuan, dia bekas pacarmu. Aku mendengarnya seperti ada angin ribut yang meroboh-robohkan gendang telinga. Selama ini ceritamu ku nilai selalu bagus, tapi tidak untuk kali ini. Jelek, sangat jelek. Dan aku urung melanjutkan pembicaraan. aku putuskan untuk mematikan handphone, parahnya aku tak mampu mengucapkan pamit, dengan kalimat terpendek sekalipun. Kau pasti kelimpungan, aku tahu.
Menurut bisikan dukun tetangga aku sedang terbakar cemburu. Panas Al, membara. Tapi aku terlalu pengecut untuk mengakuinya. kejadian aku menutup telfon dengan cara tak wajar membuatmu sibuk meminta maaf. Tapi aku belum bisa menjelaskan sebuah jawaban ketika nanti kau Tanya aku kenapa. Itu pertanyaan rumit Al, beri aku waktu berfikir.
Saat dimana aku sangat membutuhkan pendengar selain kau, terasa sekali aku linglung. Tak ada arah yang ku toleh. Aku harus bagaimana? Kau terlanjur ku anggap bukan orang lain, kau sudah tahu semuanya tentang aku. Apa aku perlu mencari pendengar baik yang lain? Tidak, apapun masalahnya, kau harus tahu, aku harus bercerita, meskipun ini tentang perasaan yang aku sendiri tidak terlalu paham. Aku resah lagi, aku bingung bagaimana caranya bercerita yang baik dan benar. Ini luar biasa, aku takut habis kata. Tentang perasaan yang abstrak, yang paling membuatku sensitif dibanding apapun. “Aku sayang kau” , akhirnya kau tahu semuanya. Dadaku lega tak terkira, hingga saat itupun kau tak berubah julukan dari pendengar yang selalu baik. Bagiku ini bukan adegan memalukan, bukankah dulu Khodijah yang berkata cinta lebih awal kepada Muhammad? karena aku sadar kesempatanku bercerita tentang itu semakin sempit.
Sayang atau cinta menurut kebanyakan orang berbeda makna. Tapi tidak menurutku, bagiku sama, aku memilih diksi sayang karena alasan kenyamanan dimulutku. mereka saja yang mempersulit dengan mencari-cari perbedaannya. Setelah kau tahu, sama sekali aku tak menyuruhmu berkata-kata, menjawab tidak atau iya. Bukan, aku tak mengiginkan hal itu. Cukup sekedar kau tahu, jangan beri jawaban. Aku hanya ingin kita tetap bercerita.
Selega apapun aku tetap gelisah dengan peristiwa gelas pecah, aku khawatir suatu saat kita seperti gelas itu. Al, apa kau meresahkan hal itu juga? Ku ulangi lagi ini perihal paling sensitif bagiku dibanding apapun. Tiba-tiba dadaku sering sesak, perasaan itu semakin berani menantang, seperti akar yang memaksa muntah dari tanah dengan kekuatan maksimalnya. Aku kesakitan Al. aku menjadi cengeng, kau terasa jauh, dan makin jauh. “meskipun kau tidak menyukai siang, aku tetap harus berbincang tentang matahari. Matahari selalu bisa menyinari walaupun dengan jarak yang sangat jauh bukan? Jika terlalu dekat, maka yang terjadi matahari hanya menyakiti bumi.” Jujur aku bingung dengan rangkaian kalimatmu, apa maksudnya?
Galau, begitulah anak muda menamakan. Di zaman serba modern ini wabah galau sangat cepat menyerang dari satu tempat ke tempat lain. Sialnya aku kena. Kau tak ada kabar, aku tak yakin kau setega itu. Apa kau pikir dengan menghilang aku akan tenang? Tidak Al, sebaliknya. Aku galau, gundah gulana. Hal yang membuatku gelisah siang malam benar-benar terjadi. Kau berubah, kau tidak lagi menyalahkan kekhawatiranku seperti dulu. Kau juga tega membiarkan aku menangis tersedu. Aku ingin bercerita Al, kau dimana?
Enam bulan berlalu kau juga tak kembali. Aku berkali-kali menghubungimu tapi responmu acuh seperti siang, padahal kau mengerti aku tidak suka siang yang super acuh itu. Mengapa kau justru menirunya? Kau sengaja melakukannya? Air mataku semakin deras Al.
Tertatih, aku tak lagi punya cara. Aku minta maaf jika perasaan itu kau anggap sebuah kesalahan. Setidaknya, kau tak perlu pergi sejauh matahari. Aku membutuhkanmu, aku masih ingin mendengarmu, aku masih ingin kau dengar. Aku ingin kita tetap bercerita. Tepat sebelas bulan lebih empat hari setelah kau pamit ke bandung untuk melanjutkan studi kau benar-benar tak menanyakan kabarku lagi, sekalipun tak pernah. Dan sepertinya itu terlalu mudah kau lakukan, tidak seperti aku. Andai sebelum pergi kau memberiku cara bagaimana menghentikan air mata mungkin aku tak selemah ini. Ku kira air mata kepergianmu saat itu sudah cukup mewakili segalanya, ternyata tidak. Bertemu pun jarang sekali, kenapa aku tak mampu menahan bendungan air mata agar tidak tumpah ketika melihatmu pergi? Aku juga tak mengerti, mungkin saja perasaanku terlalu jujur.
Al, begitu sulit ku temukan radarmu. Air mataku mulai kering, rinduku mengeluh lelah, ceritaku tercecer berserakan. Jika memang kau tak akan kembali, do’aku selalu mengiringimu, semoga kau baik-baik saja. semenyebalkan apapun kau, tak pernah mengukir cela dihidupku. Terima kasih atas kesempatan malam-malam lalu dan mengenalmu hingga aku menjadi sok tahu tentang segala hal. Andaipun Tuhan memberiku kesempatan untuk bertemu denganmu sekali saja, aku memintamu untuk mendoakan kesembuhanku. Aku ingat kau pernah berkata do’a akan mengalahkan apapun bukan? Terhitung Sembilan hari aku terbaring di tempat mengerikan bernama rumah sakit ini, kau tahu Al, aku tidak tahan baunya. Siang dan malam terasa sama, tidak menyenangkan seperti dulu. Memang aku dulu belum sempat bercerita tentang penyakit ganas ini, aku tak ingin kau cerewet menasihatiku ini itu. Tetapi aku baru sadar aku ingin bercerita saat kau tak lagi bersedia 24 jam seperti yang sudah-sudah. Tak perlu ku jelaskan tentang penyakit apa, mulutku berat sekali mengucapkannya. Toh kau juga tak disini. Jadi tak perlu aku menghabiskan waktu untuk menyebut penyakit mengerikan itu. Al, sudah tak mampu lagi aku menggambarkan bagaimana rasanya kesepian hingga saat ini. Setiap hari aku berdoa kau datang menjengukku tanpa aku memberitahumu. Mustahil. Aku merasakan sakit sekali Al, aku ingin segera pergi dari sini. Mungkin disana aku akan lebih tenang. Sekali lagi maafkan aku, aku terlalu bodoh untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dengan ataupun tanpa kesempatan kita untuk bertemu, berjanjilah untuk selalu mendo’akanku. Aku butuh doamu. Itu saja Al, tidak lebih. Aku tahu aku bukan pendengar yang baik, segera temukan pendengar terbaik ya, jangan seperti aku. Manja, cengeng, seperti anak kecil katamu.  Al, sekarang dadaku sesak sekali, pandanganku kabur, semuanya terasa sakit. Tetapi kenapa aku merasa kau ada di dekat sini? Apa Tuhan mengabulkan do’aku untuk bertemu denganmu? Aku semakin merasakanmu Al. bukankah orang yang sedang berjalan di depan pintu itu kau? Entahlah. Semuanya menjadi gelap sebelum aku menemukan jawaban. Jika orang itu benar kau, aku bisa menebak kau tak akan menangis, nyalimu terlalu ciut untuk menangis didepanku kan? Aku saja yang menangis, tak perlu kau meniruku. Selamat tinggal Al, Alan yang aneh dan selalu menyebalkan.      



Tidak ada komentar:

Posting Komentar