Kamis, 03 Oktober 2013

cerpen; Satu Kosong




Tapi dengan cara apapun sukses belum terlihat barang sedikit. Masih sama, cermin tetap lebar walaupun sepasang mata memelototinya untuk menyempit penuh tanda seru. Entah kali berapa aku berdiri membentak cermin untuk menyempitkan tubuh ketika aku tepat dimukanya. Seperti tak ada ketakutan sama sekali, tubuhnya semakin lebar menghadang marahku yang sedang beradu sebal. Tubuhku kecil sekali ditangkapnya. Sungguh tak tahu diuntung. Mungkin dadanya terlanjur membusung akibat ulahku terlalu sering menemuinya setiap kali.
Asa mulai tercemar, aku khawatir sebelum akhir dia sudah terkapar. Pertanyaanku semakin beranak-pinak, nihil jawaban, dan semakin menghujam kepalaku sewaktu mata memandang sekotak bingkai berfoto berbalut debu. Serupa anak kembar, dengan kuncir dua ciri khas  kanak-kanak. Itu saudara sepupu, tak ada kembar. Hanya pakaian kembar yang mendominasi, itupun disebabkan keanehan orang tua kami yang selalu membuatkan pakaian berseragam, aku yakin pakaian itu hanya ada dua didunia. Untukku, dan saudara sepupuku. Terkenang disemua foto kita berbaju kembar meskipun dulu sebenarnya aku sempat bosan. Apa filosofinya, hingga Sembilan belas tahun aku juga tak paham.
“ya bagus saja, biar akur.” kalimat ibu tak mampu mewakili penasaranku ketika aku menyerah memikirkan filosofi.
Kusudahi saja, waktuku sangat singkat untuk mendahulukan pertanyaan yang lebih pantas ditanyakan. Pikiranku masih dirunyamkan sebingkai foto tadi. Saudara sepupuku sekarang lebih pantas seperti aku didalam foto itu, dan aku seperti lebih pantas menjadi dirinya. Bukan masalah kembar dan wajah tertukar, tapi dunia memutarkan adegan terlalu bersemangat. Hingga semuanya terbalik. Pipi bakpao juga tubuh gembul milikku yang dulu sekarang hilang. Dan sekarang justru sepupuku memiliki pipi bakpao dan tubuhnya gembul sekali. Apa dia mencuri milikku? Wati, ya namanya wati. Apa Wati yang mencurinya?
Aku tidak lupa sedikitpun tentang julukan-julukan masa kecil. Masa dimana kita boleh bicara apa saja tanpa memikir dosa. Fatmawati satu-kosong. Apa aku perlu meminta jawaban pada ibu untuk membedakan antara keanehan dan keajaiban? Sembilan belas tahun tak kunjung menunjukkan aku cerdas. Tidak sekedar baju kembar yang membingungkan, nama “Fatmawati” menurutku lebih memeras otak. Untuk apa orang tuaku memberiku nama Fatma, dan orang tua sepupuku memberinya nama Wati. Jika dirangkai betapa hebatnya nama kami, Fatmawati. Seorang Ibu Negara bukan? Kalau aku tidak salah ingat pelajaran IPS kelas empat, beliau yang menjahit bendera merah putih. Memang aku sedang ingin tahu tentang sejarah, tapi bukan perihal kemerdekaan. Tentang namaku, nama sepupuku. Benarkah sebuah nama sebuah cerita? Aku harus tahu ceritanya. Mengapa nama sepupuku tidak yang lain saja, atau aku yang tidak bernama Fatma. Tentu tak satupun  menggabungkan nama kami semudah itu ketika menyapa. Atau jawaban ibu malah supaya saat kita bermain manggilnya bisa di jamak, ataukah jawaban klise biar akur, atau jangan-jangan agar kita berdua menjadi Ibu Negara. Harus berdua? Ya Tuhan, semoga semuanya tidak ada yang benar.
Satu-kosong. Telingaku sudah sangat tebal mendengarnya, tetapi Wati memutuskan untuk tuli saja. gemuk dan kurus ternyata tidak sebatas istilah, fakta mengatakannya sebuah masalah. Hidup memang terkadang lucu, seperti anak kecil tanpa beban teramat menggiurkan. Padahal jelas tak ada yang menyangkal jika aku mengatakannya tidak mungkin. Satu-kosong! Jangan dikira itu kata reporter pertandingan sepak bola. Itu julukan kami, Fatmawati satu-kosong! Kata anak-anak tak berwajah dosa. Dimana ada aku, disitu ada wati. Anak-anak berwajah tak berdosa memang berniat ramah, selalu melontarkan sapa. Cara menyapa kalian terlalu panjang, tidakkah satu-kosong kalian potong saja? protesku tercekat dipucuk kerongkongan.
Sejujurnya perubahan bukan alasan utama, karena sebenarnya sama. gemuk menjadi kurus, kurus menjadi gemuk. hanya terbalik. Orang-orang terlalu sadis mengatakan sebagai  ‘hanya’.  Batinku  tak sampai pikir mereka merasakan kalimat yang berubah wujud bom atom, siap menghancurkan perasaan. Perasaanku dan Wati. Meledak. Karena apa? Entah ada apa dengan Sembilan belas tahun, gemuk dan kurus yang saat kecil bagi kami adalah mainan, sekarang beralih makna menjadi beban.
“wuuuu krempeng mana kereeen.” Didalam cermin Wati mengomentariku bak juri Miss Word gadungan.
“tumbuh itu keatas, bukan kesamping!” gayaku tak kalah sombong dengan bintang iklan sebuah susu pertumbuhan yang pernah kulihat.
Sekarang empat mata memelototi cermin yang meskipun menyebalkan tetap saja kunobatkan sebagai barang berharga di kamar. Ingin ku pukul, mengatakan aku sedikit gemuk dan Wati sedikit langsing saja tidak becus. Sedikit, aku minta katakan sedikit tak usah banyak-banyak. Dasar cermin kikir, batinku.
Aku menyandar tepat menghadap bunga Melati kesayangan ibuku. Gerakannya mengangguk-angguk seperti minat menemani. Angkat kepala dan lihatlah ke atas. Ternyata hari selesai menelusuri matahari, senjapun kalah dipeluk takluk. Bintang gemintang memprovokasi seluruh alam meneriakkan tawa riang. Tapi tidak buatku, aku terlampau perhatian memusatkan seluruh syaraf pada bulan.
“hei langit, bagaimana bisa kau membungkus bulan begitu menawan? Apa kau tau caranya dari buku pintar? Buku apa?” kataku dalam hati namun sungguh percaya langit mendengarnya.
Segan berlama-lama aku mulai diserang gigil malam, dingin begitu meraja. Tahu sekali aku tak cukup bisa berlindung dengan gumpalan lemak, antusias udara menguasaiku. Ah mengganggu saja. cakapku pada bulan belum selesai, siapa tahu bulan membisikiku tentang bagaimana caranya gemuk. Ku tatapnya sekali lagi ada isyarat aku harus masuk rumah, teras tak punya niat menyamankan tubuhku.     
Tak ingin menganggurkan diri. Cara jitu menggemukkan badan. Enter. Aku mulai menerobos dingin malam dengan kehangatan tanpa perlu banyak lemak. Gemuk-kurus-gemuk-kurus selalu menjadi kalimat primadona hobi baruku, browsing. Sudah tiga belas file ku amakan, tak lupa informasi untuk Wati menyertai. Bagaimanapun Wati andil dalam sejarah ‘satu-kosong’ dan dengannya pula aku memulai perjuangan menyapu bersih ‘satu-kosong’ dalam kehidupan.
“dulu itu kau yang jadi satu, aku jadi nol. Tapi sekarang aku yang jadi satu kau yang jadi nol. Menurutmu ini takdir apa? Aku tak habis pikir.” Pembukaanku sebelum berunding tiga belas file tadi malam. 
“yang jadi pertanyaan kenapa masih ‘satu-kosong’ juga? Bukankah dunia sudah berubah?”
“walaupun aku kurus, aku tinggi. Itu jauh lebih berada di titik aman dibanding kau.” Kataku sok tenang.
“maksudmu?” Wati bersungut-sungut penuh curiga.
“kau tau tentang pertumbuhan? Seingatku pertumbuhan itu ada Pertumbuhan primer dan sekunder. Nah, tinggi itu pertumbuhan primer dan lebar itu pertumbuhan sekunder.” Tukasku mengenang Biologi.
“lalu?” tanda Tanya menggantung dijidatnya.
“orang yang tinggi, berarti pertumbuhan primernya sudah terpenuhi. Yang sekunder bisa dicapai kapan-kapan kan? Makanya orang gendut itu bisa kapan saja. sekarang coba bayangkan, apa tinggi bisa kapan-kapan? Tidak.”
Wush bantal melayang menimpuk wajahku yang penuh perjuangan tampil dengan kesan serius. “ah omong kosong!” mungkin Wati berfirasat jelek dengan kalimatku selanjutnya.
“hei aku belum selesai bicara. Aku Cuma berbagi pengetahuan.” Ku balas timpukan bantalnya.
“tinggi itu tidak bisa kapan-kapan. Harus sekarang, sebelum usia berkata ‘kesempatan tinggi anda sudah tidak aktif’” aku terpingkal melihat wajah Wati yang perlahan pucat pasi.
“tidak lucu! Kapan-kapan itu kapan? Kau juga tak kunjung gemuk kan? Sama saja.”
“hei, kan sudah ku bilang kap-pan-kap-pan! Hahaha”
Menjalankan misi tidak dapat ditunda lagi. Semua tips sebisa mungkin kami patuhi. Tak ada yang menyuruh, mungkin ini yang dinamakan ikhlas. Wati tergiur dengan obat pelangsing yang ditawarkan tetangga sebelah. Meskipun yang menawarkan badannya masih melebar kemana-mana Wati gampang sekali percaya. Kata-kataku yang kerap benar saja selalu ia salahkan. Pantas saja, Wati bukan Umar bin Khottob yang berjuluk AlFaruq, selalu bisa membedakan salah dan benar. Hahaha.
“jangan pakai obat pelangsing.” Kali ini aku benar-benar serius dengan sendirinya, tanpa ku buat-buat.
“tapi, t..”
“aku tidak bersedia bantu kalau terjadi sesuatu. Aku sudah mengingatkanmu. Masih ada banyak cara Watiiiii.” Pungkasku. Wati menurut begitu saja.
Sampai sekarang otakku tak bisa lepas dengan iklan di TV. Ku tahu sudah lama, tapi sekarang aku baru benar-benar merasa butuh memikirkannya. Iklan yang ku tonton ketika berusaha menghindari sinetron murahan itu memberi rangsangan kuat dalam memori otak. Sampai-sampai hati ikut-ikutan tersedak, apa benar iklan merasuk sampai hati? Entahlah. Di akhir iklan itu ku dengar ‘untuk mereka yang kurus’ kalau saja boleh usul aku akan berkata diksinya membuat telinga serasa mau copot. Kalaupun cuma telingaku yang merasa mau copot, aku tak peduli. Aku hanya usul. Diterima atau tidak, terserah. “untuk mereka yang ingin gemuk” bukankah terdengar lebih bersahabat?
Sebanyak apapun aku berkomentar, mau tidak mau aku membelinya. Susu untuk mereka yang kurus kata iklan. Harganya membuat aku mati-matian rajin menabung secara mendadak. Harapan satu-satunya susu itu memberi sedikit perubahan dan membuat cermin bertekuk lutut berkata aku sudah ada perubahan. sebenarnya ada lagi barang yang lebih ku benci selain cermin kikir itu, timbangan. Urung sekali aku menampangkannya. Malas, sungguh!
“berat badanku turun setengah kilo.” Kata Wati penuh kebanggaan.
“setengah kilo? Baru setengah kilo.” Jawabku remeh sembari bertanya pada diri sendiri apakah berat badanku sudah naik, meskipun Cuma setengh kilo. Aku tak yakin.
Perjuangan tetap perjuangan. Meskipun dengan ikhlas tetap saja hasil adalah keputusan besar Tuhan. Dari sana muncul cerita Wati sampai bolak-balik kamar mandi 13 kali tiap tengah malam. Efek hebat dari teh hijau yang diminumnya. Dan itu berlaku setiap hari. Aku hanya geleng-geleng, menunggu detik-detik mulut Wati berkata menyerah.
Porsi makan ditambahi, makanan berlemak, suplemen, kacang-kacangan, susu ini, susu itu, ah aku tak ada minat membahasnya. Sudah! Cukup! Terserah apa kata teori, dari profesor terhandal sedunia pun aku tak punya rasa ingin tahu. Terlalu mengumbar waktu. Aku sekarang punya kesimpulan baru, bahwa porsi makan adalah urusan porsi makan itu sendiri. Tidak ada hubungannya dengan gemuk. Dan gemuk juga urusan gemuk itu sendiri, tak ada sangkut pautnya dengan porsi makan. Tidak ada! Jadi tak usah menyiksa perut yang tanpa serep itu memuat makanan sebanyak yang orang-orang katakan. Secukupnya, sekali lagi secukupnya. Mau bukti? Wati yang segemuk itu porsi makannya jauh lebih sedikit dibanding aku. Lelahnya Wati jauh lebih lelah dibanding aku. Kenapa Wati gemuk? Kenapa aku kurus? Apa karena makan banyak? Istirahat banyak? Tidak kan?
Berbagai cara sudah kami lakukan dengan ikhlas bukan? Olahraga saja yang terpaksa. Banyak yang berkata aku dan Wati gagal lantaran tak ada perubahan. Ada perubahan, Wati semakin bulat semangka. Dan aku, sama, tetap, tidak berubah. Tidak ada kegagalan, ku kira belum waktunya. Itu saja.
“yang gemuk ingin kurus, yang kurus ingin gemuk. Dimanapun kapanpun manusia selalu merepotkan.” Mata ibu tak mengarah sedikitpun padaku, tapi aku tanggap sekali ibu sedang menyindir.
Saat itu aku mendengar cerita tentang tetangga dari tetangga. Tetangga sebelah rumah yang dulu menawari obat pelangsing Wati terlihat kurus, sangat kurus malah. Dan satu lagi, tidak sehat. Wati memelukku penuh terima kasih. Aku kaget bukan kepalang, khawatir Wati kerasukan jin jembatan seberang. Baru kali ini aku benar dimatanya.
“aku berjanji! kalau saja ada donor daging. Orang yang pertama ku donori kau Fat, sepertiga dari dagingku, kalau kurang bilang saja, ku tambah, kalau masih sisa sodaqohkan biar aku juga dapat pahala.” Wati memasang wajah dermawan terbaiknya edisi tahun ini.
Cepat saja ku bilang “gundulmu!” terbahak, tubuhnya yang lebar mengguncang ke kanan ke kiri, ke atas ke bawah. serasa bumi keberatan mendengar tawa. Mungkin dikira tawa gajah. kalau tidak, berarti tawa orang stress rangkap. hahaha
Lalu mau apa kalau aku tak juga berubah? Aku menemukan makna lain, hidup telah menemukan imanku, telah berbincang padanya bahwa dirinya sebuah anugerah. Kau tau apa yang harus kau lakukan terhadap anugerah? Bersyukur. Ya, bersyukur.
“ibu dulu juga kurus, sekarang tidak kan?” ibu mengaku orang-orang tak berani lagi menyebutnya kurus setelah menikah dengan bapak.
“tepat! Ini faktor keturunan. Boleh jadi aku akan seperti ibu.” Pekikku bahagia. Tetapi aku juga ingin tertawa. Menghibur diri.
Dddrrrr.. drrrtt.. satu pesan diterima. “fatmaaaaa ibuku marah aku terlalu gendut. Dulu aku sekurus kamu, sekarang aku segendut Wati. Mau makan ini itu selaluuuuuuuuu diomeli. hiks” Pesan singkat seorang teman yang mengkuadratkan syukurku. dunia selalu ada-ada saja. dalam kehidupan orang lainpun aku dan Wati masih juga bisa dihubung-hubungkan.
“semisal masih ada yang manggil satu-kosong gimana?”
“Goooooooooooooolllllll!!!” aku dan Wati serentak kembali terbahak.   

1 komentar:

  1. Blackjack and Casino Review 2021 - JTHub
    › 2021/08 › blackjack-and-casino 경산 출장마사지 › 2021/08 › blackjack-and-casino Review 2021-08/12 - Blackjack 여수 출장마사지 and 성남 출장마사지 Casino is an 수원 출장안마 excellent online 순천 출장마사지 casino, that's great for slots, table games, and live dealer gaming. It's also a good  Software: Microgaming, NetEnt, Microgaming, Microgaming‎ Rating: 4.5 8 votes

    BalasHapus